Selasa, 28 November 2017

Kisah Haru Kartini, Seorang Guru Honorer Yang Telah Mengabdi 37 Tahun Dan Bergaji Kecil di Ngawi

Baginya menjadi Seorang Guru adalah sebuah panggilan. Ikhlas mengabdi tanpa pamrih dan tak mengenal rasa Lelah, demi mencerdaskan tunas bangsa


VIRALSBOOK.COM - Adalah Sukartini (56) yang ikhlas selama 37 tahun mengabdi menjadi guru TK, meski usianya sudah senja. Guru asal Ngawi satu ini patut dibanggakan. Tanpa pamrih apapun meski belum diangkat sebagai PNS, Kartini - panggilan akrabnya, rela berangkat mengajar meski hanya naik sepeda ontel menempuh perjalanan 1 kilometer ke sekolahnya di TK Desa Purwosari.

Kesehariannya, Kartini tinggal menumpang di rumah Mulyadi (71) mantan Kepala Desa Purwosari, Kecamatan Kwadungan. Dia rela tinggal bersama keluarga Mulyadi, untuk membantu memasak dan pekerjaan rumah tangga lain.


Sebagaimana dilansir dari laman detik, Kartini mengawali aktivitasnya pada pukul 06.30 WIB, setelah membersihkan rumah Mulyadi. Dia menaiki sepeda ontel menuju sekolah. Rutinitasnya setiba di sekolah, selalu membersihkan ruang kelas. Sebab, pukul 07.00 WIB harus mengajar 16 murid TK.

Dengan penuh semangat, Kartini yang saat itu ditemani rekannya, Sunarti (40) menyiapkan baris berbaris anak-anak yang akan upacara bergabung dengan SDN Purwosari yang lokasinya bersebelahan dengan gedung TK tempat Kartini mengajar.

"Alhamdulilah, disyukuri, saya memang dari orang susah, sejak mengajar TK saya ikut pak lurah. Saya mau kerja apa saja ikut bu lurah asal bisa tinggal bersama sambil ngajar TK," tutur Kartini dengan polos di sekolah TK Desa Purwosari, Selasa (28/11/2017).

Dari pengakuan Kartini terungkap bahwa dirinya mengajar sejak tahun 1980 dengan gaji per bulan yang hanya Rp 4.500. Hingga tahun 2017, gajinya sudah mengalami 7 kali kenaikan. Yakni tahun 1983 Rp 75 ribu, tahun 1999 Rp 100 ribu.

Kemudian tahun 2012 Rp 150 ribu, tahun 2014 Rp 175 ribu, tahun 2015 Rp 250 ribu dan saat ini Rp 300 ribu. Sejak tahun 2012, dirinya masuk database guru bersertifikasi sehingga mendapat tambahan gaji sebesar Rp 1.500.000.

"Naik sekitar 7 kali mas, baru tahun 2012 alhamdulilah saya sudah masuk database guru bersertifikasi. Kalau mengharapkan jadi PNS tidak mungkin, karena usia ini sudah mau purna. Untuk kebutuhan sehari-hari saya ikut masak di rumah mantan pak lurah," ucap Kartini lugu.

Kartini mengaku dengan horor yang minim, anak perempuan satu-satunya pun hanya lulusan SD. Kala itu dia tidak bisa membiayai sekolah hingga SLTA.

"Anak saya hanya SD lulus langsung nikah dulu. Soalnya ndak ada biaya," ucap Kartini sambil mengusap air mata.

Saat ditanya mengapa menangis, Kartini terharu masih diberi umur panjang bisa melihat anak didiknya sudah banyak yang berhasil. Baik jadi guru ataupun polisi, bahkan kepala Desa Purwosari juga muridnya sendiri.

Betapa mirisnya nasib guru di Indonesia. Para pendidik yang mendedikaskan hidupnya untuk kecerdasan anak bangsa ini harus membagi waktu antara mengajar dengan pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya sehari-hari.

Kita mungkin sudah sering mendengar julukan guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Julukan itu bukan hanya untuk menggambarkan keikhlasan seorang guru, tetapi juga mengungkapkan bahwa kita sering melupakan nasib para pahlawan ini.

Para guru memang tidak mengharapkan penghargaan berupa tanda jasa, tapi bukan berarti pemerintah lantas menutup mata untuk melihat jasa-jasa mereka yang besar terhadap dunia pendidikan di indonesia. (vb_01)

comments