Setiap anak seharusnya mendapatkan kasih sayang dan kehidupan yang layak dari orang tuanya. Namun tak semua ayah berada dalam kondisi ekonomi yang mampu untuk mewujudkannya. Lantas di tengah jerat kemiskinan ekstrem, sejauh mana seorang ayah sanggup bertaruh nyawa demi menyambung hidup keluarganya?
Daftar Isi
VIRALSBOOK - Kebutuhan dasar dan hak untuk hidup layak bagi setiap keluarga merupakan hal mendasar yang sering kali sulit dijangkau oleh rakyat kecil. Di tengah minimnya jaminan sosial bagi masyarakat kelas bawah, para kepala keluarga terpaksa memikul beban hidup yang melampaui batas kemampuan fisik mereka demi memastikan anak-anak mereka tetap bisa makan dan mengenyam pendidikan.
Platform media sosial seperti Facebook kerap menjadi ruang linimasa bagi para netizen yang menyebarkan kembali kisah-kisah kemanusiaan penyentuh hati. Di antara lalu lintas konten yang bergerak cepat, rekaman perjuangan figure seorang ayah berulang kali mencuri perhatian netizen global. Cerita-cerita yang diunggah ulang ini bukan sekadar mengejar traksi digital, melainkan menangkap realitas pahit tentang potret kasih sayang ayah yang melampaui batas kemampuan fisik dan finansial mereka.
Berikut kisahnya yang viralsbook rangkum dari platform media sosial facebook.
Rela Tidak Makan demi Sang Anak
Ryan Arebuabo dan kedua putrinya (Foto: Facebook/Jhunnel Sarajan)
Di kawasan pemukiman padat Tondo, Manila, Ryan Arebuabo (38 tahun) harus mengarungi jalan hidup yang terjal sebagai seorang ayah tunggal. Perjuangan Ryan menjadi gambaran nyata bagaimana beratnya bertahan hidup bagi warga miskin kota di Filipina. Beberapa tahun sebelum kisahnya mendunia, serangan stroke ringan sempat menghantam Ryan. Penyakit ini meninggalkan kelumpuhan pada anggota tubuh bagian kanannya sekaligus membuat bicaranya tak lagi lancar.Kondisi fisik yang tak lagi sempurna otomatis membatasi ruang geraknya. Ujian hidup Ryan kian terasa pahit ketika sang istri memutuskan pergi meninggalkannya. Sepeninggal sang istri, beban mengasuh Rose Ann (8) dan Rose Mae (6) sepenuhnya berada di pundak Ryan. Pria itu mesti merawat dua buah hatinya sendirian di tengah keterbatasan. Mereka bertiga berlindung di sebuah gubuk berdinding seng berukuran 4 meter persegi di sudut Tondo.
Meski fisiknya terbatas, Ryan pantang menyodorkan tangan untuk mengemis di jalanan. Ia memilih memutar otak demi mengais rezeki dengan membuka lapak kelontong kecil-kecilan tepat di depan huniannya. Dari jualan barang kebutuhan harian itu, Ryan mendapatkan keuntungan bersih sekitar 100 hingga 200 peso per hari (setara Rp30.000 hingga Rp60.000). Penghasilan yang pas-pasan tersebut ia kelola secara ketat agar kedua buah hatinya tetap bisa makan dan mengenyam pendidikan di sekolah.
Garis takdir keluarga kecil ini perlahan berubah setelah sebuah peristiwa tersaji di gerai cepat saji Jollibee cabang Rizal Avenue, kawasan Tondo, Manila. Pada Kamis, 16 Maret 2017, putri bungsunya, Rose Mae, baru saja menyelesaikan masa sekolah di tingkat taman kanak-kanak (TK). Demi merayakan kelulusan si kecil, Ryan menguras sisa tabungan receh yang dikumpulkannya untuk mengajak kedua anaknya makan enak di restoran tersebut.
Di meja mereka cuma ada dua paket menu cepat saji. Ryan sama sekali tak memesan porsi tambahan untuk dirinya sendiri. Ryan sengaja tak memesan paket ketiga untuk dirinya sendiri. Momen haru di sudut meja makan itu tak sengaja mencuri perhatian seorang pengunjung restoran bernama Jhunnel Sarajan.
Melalui foto yang diabadikan Jhunnel pada 16 Maret 2017, Rose Ann dan Rose Mae tampak menikmati hidangan mereka dengan sangat lahap. Di hadapan mereka, Ryan hanya duduk tenang memandangi kedua putrinya sambil menahan lengan kanannya yang kaku akibat dampak stroke. Meski tak ikut menyantap makanan, raut wajah Ryan memancarkan senyuman bahagia serta rasa puas yang mendalam.
Saat disapa oleh pengunjung restoran hari itu, Ryan berterus terang bahwa uang tabungan di dompetnya hanya cukup untuk membeli dua porsi makanan. Ryan memilih tak ikut makan. Bagi dirinya, yang terpenting Rose Ann dan Rose Mae bisa merayakan kelulusan sekolah dengan perut kenyang tanpa perlu berbagi porsi.
Unggahan foto Jhunnel Sarajan pada pertengahan Maret 2017 tersebut mendadak viral dan menyentuh hati publik, baik di tingkat lokal maupun internasional. Gelombang kepedulian pun mengalir deras untuk keluarga Ryan. Berbagai organisasi sosial dan pemerintah daerah Manila turun tangan memberikan bantuan pengobatan medis berkala untuk pemulihan stroke Ryan, sekaligus menjamin beasiswa pendidikan penuh bagi Rose Ann dan Rose Mae hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Hadiah Natal dari Tumpukan Sampah
Pria penjual kelapa dan boneka yang menyimpan cerita sedih (foto/facebook:Mayette Dela Cruz Cinco)
Di salah satu sudut Kota Manila, Filipina, aksi seorang pedagang kelapa muda keliling memperlihatkan bagaimana kasih sayang seorang ayah ditunjukkan lewat perbuatan nyata. Lewat kejadian pada Selasa, 14 November 2017 itu, publik melihat perjuangan riil seorang kepala keluarga yang menggantungkan nasib pada dagangan kelapanya, tetap mengusahakan kebahagiaan sang anak di tengah himpitan ekonomi yang serba menyulitkan.
Awal mula kisah ini terdokumentasi secara tidak sengaja oleh seorang pembeli wanita bernama Mayette Dela Cruz Cinco. Saat itu, Mayette berniat membeli air kelapa segar dari seorang pedagang yang biasa berjualan menggunakan gerobak kayu dorong. Ketika sampai di lokasi gerobak tempat biasa ia mangkal, pedagang tersebut tidak berada di tempatnya. Saat Mayette hendak berbalik arah, dari kejauhan terdengar suara teriakan sopan seorang pria, "Bu, tunggu sebentar ya?"
Di tepi jalan, penjual kelapa itu sibuk dengan sesuatu, ia bukan sedang membelah batok kelapa atau mengurusi pembeli, melainkan membungkuk mengacak-acak tumpukan sampah di trotoar. Dari kejauhan, Mayette yang memperhatikannya sempat bingung melihat aksi pria tersebut. Rasa penasaran itu baru terjawab beberapa menit kemudian, saat si pedagang kembali berdiri tegak dengan rona lega yang jelas terlihat di mukanya.
Di tangannya, ia memegang sebuah barang bekas yang terbuang: sebuah boneka plastik karakter Anna dari film animasi Frozen buatan Disney. Kondisi boneka tersebut sangat memprihatinkan, penuh dengan debu kotoran sampah, dan salah satu bagian tangannya terlepas.
Langkah kakinya mengarah kembali ke gerobak, sementara tangannya cermat membersihkan kotoran pada paras boneka tersebut menggunakan selembar kain kusam. Ia memasang kembali engsel tangan boneka yang terlepas, lalu mengusap serta merapikan rambut plastik boneka itu menggunakan jemarinya. Tanpa rasa malu, dengan senyuman lebar ia berkata kepada Mayette, "Aku punya hadiah Natal untuk putriku. Aku membersihkannya karena wajahnya sedikit kotor."
Akala ko walang bantay ang buko. Bago ko pa sya makita, sumigaw na si kuya. "Ma'am saglit lang po ha?" Ang busy ni kuya....
Dikirim oleh Mayette Dela Cruz Cinco pada 14 November 2017
Bagi sebagian orang yang hidup berkecukupan, boneka bekas dari tempat sampah mungkin dianggap sebagai barang tak bernilai atau sampah yang tak layak disentuh. Namun, bagi pedagang kelapa yang penghasilan harian bersihnya habis hanya untuk membeli bahan pokok dasar, menemukan boneka tersebut adalah berkah besar. Pria itu merasa sangat bersyukur karena dapat membawa pulang sebuah mainan layak pakai untuk sang putri tanpa harus memotong anggaran makan harian keluarganya.
Mayette mengabadikan momen haru tersebut dan mengunggahnya ke Facebook pada 14 November 2017. Momen yang terrekam dalam foto itu mendadak jadi sorotan netizen hingga memancing puluhan ribu tanggapan simpati di platform digital. Kolom komentar dibanjiri pandangan netizen yang sepakat bahwa kebahagiaan anak sama sekali tak ditentukan oleh nominal harga mainan di toko megah, melainkan dari kerja keras serta keikhlasan seorang ayah yang terus berjuang di tengah segala keterbatasan hidupnya.
Menantang Gelombang dan Dinginnya Air Laut
Pria berjualan es krim di tengah laut (foto/viral4real)
Bagi warga pesisir, laut umumnya jadi tumpuan mencari nafkah. Tapi untuk Wenceslao—pria paruh baya yang biasa dipanggil Mang Wenceslao—perairan Pantai Matabungkay di Desa Matabungkay, Kecamatan Lian, Batangas, Filipina, punya makna yang lebih ekstrem: saban hari ia harus bertaruh nyawa di sana.Sehari-harinya, Mang Wenceslao mengandalkan jualan es krim tradisional (sorbetes). Kalau di Indonesia pedagang serupa biasa keliling dorong gerobak di gang atau pinggir jalan, Mang Wenceslao punya cara yang jauh lebih ekstrem akibat kondisi Pantai Matabungkay. Demi mengejar pelancong yang menyewa rakit kayu (balsa) di tengah laut, ia nekat berenang dan menjajakan dagangannya langsung di dalam air.
Sambil memegang dan mendorong wadah es krim gabus yang mengapung di atas air, Mang Wenceslao berenang sejauh puluhan hingga ratusan meter dari bibir pantai menuju tengah laut lepas. Tanpa rompi pelampung atau alat pelindung apa pun, lelaki beruban itu nekat menembus riak gelombang demi menjajakan es krimnya ke para wisatawan di atas perahu. Setiap kayuhan tangannya mengandung risiko tinggi, mulai dari ancaman kram otot, terseret arus laut yang mendadak membesar, hingga risiko tenggelam.
(foto/facebook-abbeyann.hernandez)
Peristiwa ini tercatat pada Sabtu, 16 Desember 2017, ketika seorang wisatawan lokal bernama Abbey Ann Hernandez mengabadikan momen tersebut di lokasi. Abbey, yang kala itu tengah berlibur bersama keluarganya di atas perahu rekreasi, dibuat terheran-heran. Di tengah laut lepas, ia melihat seorang lelaki setengah baya berenang mendekati perahu mereka sambil terus mengayuh air.Mulanya Abbey mengira pria itu cuma wisatawan yang sedang berenang biasa. Tebakannya langsung meleset saat lelaki tersebut menyodorkan kotak es krim dan mulai menawarkan isinya.
(foto/facebook-abbeyann.hernandez)
Dari obrolan singkat yang diunggah Abbey ke akun Facebook-nya pada 16 Desember 2017, terungkap latar belakang ekonomi Mang Wenceslao yang tergolong serba kekurangan. Demi memastikan pasokan bahan pangan di dapur aman, ia rela menepis rasa takut dan mengambil risiko kerja di tengah lautan.Cakupan unggahan berisi foto dan rekaman video itu langsung meluas di media sosial hingga dibagikan puluhan ribu kali. Gelombang simpati dari publik internasional yang tersentuh lantas berlanjut pada aksi penggalangan dana. Peristiwa ini memperlihatkan betapa tipisnya jarak antara usaha mencari makan dan pertaruhan nyawa bagi rakyat kecil demi menyambung hidup keluarga.
***
Viralnya deretan kisah ini di Facebook membuktikan betapa solidnya empati warganet saat melihat ketimpangan di depan mata. Gerakan kolektif di media sosial terbukti sanggup menembus tembok kemiskinan—mulai dari menggalang dana darurat, menyediakan modal kerja, sampai memastikan urusan sekolah anak-anak mereka aman. Di balik aksi cepat netizen ini, ada fakta pahit tentang jaring pengaman sosial negara yang masih bolong-bolong di tingkat paling bawah.
Sobat viralsbook, Masalah kemiskinan yang mengakar tak bakal selesai hanya dengan mengandalkan rasa iba warganet dan ramainya lalu lintas unggahan di media sosial. Selama lapangan kerja layak dan jaminan hidup dasar belum merata, bakal terus ada kepala keluarga yang terpaksa bertaruh nyawa di jalanan atau mengarungi laut lepas. Mangkuk nasi dan masa depan seorang anak mestinya jadi jaminan pasti, bukan cuma mengandalkan kebetulan dari satu unggahan yang mendadak ramai di internet. (vb)





