Demi membebaskan rakyatnya dari jerat pajak yang mencekik, seorang wanita bangsawan di Inggris pada pertengahan abad ke-11 nekat menempuh tindakan ekstrem dengan berkuda tanpa busana melintasi pusat kota Coventry. Keberanian, empati, dan pengorbanan harganya demi kesejahteraan masyarakat tidak hanya meluluhkan kekerasan hati sang suami, tetapi juga mengukir salah satu legenda paling abadi dalam sejarah Britania Raya.


VIRALSBOOK.COM - Pada abad ke-11, wilayah Coventry di Inggris berada di bawah kekuasaan seorang bangsawan kaya bernama Leofric, Earl of Mercia (968–1057). Ia berasal dari klan bangsawan Anglo-Saxon yang sangat berpengaruh. Leofric merupakan putra dari Leofwine, seorang Ealdorman (bangsawan penguasa wilayah) Hwicce—sebuah wilayah sub-kerajaan kuno di dalam area Mercia (daerah Midlands, Inggris modern).

Leofric memiliki tiga saudara laki-laki, yaitu Northman (tewas dieksekusi pada tahun 1017 atas perintah Raja Cnut), Eadwine, dan Godwine. Setelah kematian kakaknya (Northman) serta bangsawan penguasa Mercia sebelumnya (Eadric Streona) pada tahun 1017, Raja Cnut dari Denmark dan Inggris mempercayai keluarga Leofric. Leofric kemudian diangkat menjadi Earl of Mercia menggantikan ayahnya sekitar tahun 1023–1032, menjadikannya salah satu penguasa terkuat di tanah Inggris pada zamannya.

Di samping kekuasaannya yang luas, Leofric didampingi oleh seorang istri bernama Lady Godiva—yang dalam ejaan nama Anglo-Saxon lahir sekitar tahun 990 dengan nama Godgifu, yang memiliki arti "Hadiah dari Tuhan".

Latar Belakang Kehidupan dan Sosok Lady Godiva

Lady Godiva
Dari silsilah keluarganya, Godiva merupakan putri dari klan bangsawan kaya di wilayah Lincolnshire dan Mercia, serta memiliki saudara laki-laki bernama Thorold dari Bucknall, yang menjabat sebagai Sheriff di Lincolnshire.

Ia menikah dengan Leofric, Earl of Mercia sekitar tahun 1030-an. Dari pernikahannya dengan Leofric, Godiva melahirkan seorang putra bernama Ælfgar yang kelak meneruskan tahta sebagai Earl of Mercia. Garis keturunan Godiva juga mencatat peran penting dalam sejarah takhta Inggris; cucu perempuannya, Ealdgyth (Edith), kelak menjadi Ratu Inggris setelah menikah dengan Raja Harold Godwinson.

Sobat viralsbook, Godiva dikenal di seluruh penjuru negeri bukan sekadar karena status sosialnya sebagai salah satu wanita pemilik tanah terkaya di wilayah Mercia. Parasnya yang anggun, tutur katanya yang lembut, serta rambut panjang berwarna kemerahan yang berkilau menjadikannya sosok yang dikagumi.

Leofric, Earl of Mercia - Lady Godiva
Pada masa itu, rambut tebal dan panjang Godiva kerap dipuji sebagai salah satu yang terindah di seluruh Inggris. Namun, hal yang paling membedakan Godiva dari para bangsawan lainnya adalah ketulusan hatinya. Ia dikenal sangat taat beragama, dermawan, dan kerap membagikan bantuan kepada masyarakat kelas bawah tanpa mempedulikan sekat kasta. Pada tahun 1043, bersama suaminya, Godiva meresmikan dan mendanai pembangunan Biara St. Mary di Coventry (St. Mary's Priory and Cathedral).

Berdasarkan catatan garis keturunan (Radcliffe Family Tree), pasangan bangsawan ini kelak menurunkan keturunan generasi ke-4 mereka, yaitu Sir Knight Nicholas de Lancaster (1125–1195), Baron Lancaster dan Radcliffe. Dari garis silsilah Nicholas de Lancaster inilah lahir Sir Knight John de Radcliffe (1454–1497) dan Lady Elizabeth Brereton (1458–1497), hingga akhirnya tersambung ke keturunan modern di era abad ke-20, seperti keluarga Charles Edward Linton (1890–1958) dan Evelyn Virginia Bird Linton (1922–2012).

Konflik Pajak dan Mencekiknya Sistem Heregald

Meskipun hidup dalam kemewahan istana, ketenangan hidup Godiva terus terusik oleh kondisi prihatin masyarakat di sekitarnya. Pada masa pemerintahan Leofric, perekonomian warga Coventry terpuruk akibat penetapan berbagai jenis pajak daerah yang sangat tinggi dan tumpang tindih. Salah satu beban yang paling memberatkan adalah Heregald—pajak wajib militer dan keamanan yang dipungut untuk membiayai angkatan perang serta pengawal pribadi kerajaan.

Beban ini kerap bertambah berat ketika dikombinasikan dengan Danegeld, yaitu pajak darurat yang dihimpun untuk mendanai pertahanan dari ancaman invasi militer bangsa Viking. Skema pemungutan pajak pada masa Anglo-Saxon dihitung berdasarkan unit penilaian tanah yang disebut hide—sebuah satuan luas lahan yang dianggap mampu menghidupi satu keluarga.

Konflik Pajak yang melanda Coventry
Masalah utamanya, kalkulasi pajak berdasarkan hide sifatnya kaku dan tidak memperhitungkan risiko bencana alam. Ketika kemarau panjang atau gagal panen melanda Coventry, ketetapan nilai pajak tidak pernah diturunkan. Rakyat tetap diwajibkan membayar jumlah perak atau komoditas panen yang sama persis seperti pada tahun-tahun subur.

Bagi masyarakat Coventry yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor pertanian kecil dan perdagangan pasar, skema perpajakan ini terbukti sangat mencekik. Melalui mekanisme penagihan langsung (distraint), para juru tagih yang diutus oleh Leofric dibekali wewenang penuh untuk bertindak tanpa ampun.

Jika warga menunggak, petugas akan langsung menyita hewan ternak utama, alur bajak, persediaan gandum harian, hingga mengeksekusi penyitaan lahan milik warga. Akibatnya, banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dan alat mata pencaharian utama, hingga ancaman kelaparan membayangi seluruh pelosok Coventry.

Alasan Emosional di Balik Keteguhan Hati Godiva

Melihat penderitaan rakyat yang kian meluas, nurani Godiva tergerak. Sebagai seorang wanita yang memegang teguh ajaran kasih dan kepedulian sosial, ia tidak sanggup menikmati santapan lezat di dalam istana sementara warga di luar tembok benteng berjuang demi sekerat roti. Rasa empati mendalam inilah yang memicu konflik internal dalam rumah tangganya.

Godiva secara konsisten mendatangi suaminya untuk memohon agar tarif pajak diturunkan atau bahkan dihapuskan. Namun, Leofric adalah sosok penguasa yang keras kepala, rasional, dan pragmatis. Ia menganggap desakan istrinya sebagai bentuk kepolosan seorang wanita yang tidak memahami urusan keuangan negara maupun biaya operasional kekuasaan. Berbulan-bulan Godiva melancarkan bujukan di meja makan hingga ruang peristirahatan, hingga akhirnya Leofric merasa jengkel karena merasa wibawanya dipertanyakan.

Leofric, Earl of Mercia
Sobat viralsbook, Untuk menghentikan desakan tersebut sekaligus memberi pelajaran bahwa rakyat tidak sepadan dengan pengorbanan seorang bangsawan, Leofric melontarkan sebuah tantangan ke istrinya, Godiva, yang ia anggap tidak masuk akal:

"Aku hanya akan menghapuskan seluruh pajak itu jika kau berani menunggangi kudamu tanpa sehelai benang pun melintasi pusat pasar Coventry di siang bolong!"

Leofric yakin istrinya yang terhormat, sopan, dan amat menjaga martabat diri tidak akan pernah sudi memenuhi syarat yang terkesan merendahkannya tersebut. Namun, di luar dugaan sang suami, Godiva menyanggupi tantangan ekstrem itu tanpa ragu demi menyelamatkan masa depan rakyatnya.

Detik-Detik Aksi Berkuda dan Kesepakatan Kota

Kabar mengenai tantangan ekstrem tersebut menyebar dengan cepat ke seluruh pelosok Coventry. Warga kota terkejut sekaligus tersentuh mendengar kesediaan sang bangsawan wanita untuk mempertaruhkan kehormatan dirinya demi beban hidup mereka. Rasa hormat yang mendalam membuat para tetua dan pejabat kota segera menerbitkan maklumat tegas kepada seluruh penduduk.

Pada hari yang telah ditentukan, seluruh warga diminta untuk tetap berada di dalam rumah, mengunci pintu rapat-rapat, menutup jendela kayu, dan melarang siapa pun melihat ke arah jalan. Warga sepakat memberikan penghormatan tertinggi dengan cara memberikan privasi penuh selama misi berlangsung.

Lady Godiva
Saat matahari mencapai puncaknya, suasana pusat kota Coventry mendadak sunyi layaknya kota tak berpenghuni. Aktivitas perdagangan terhenti total dan tidak ada satu pun warga yang lalu-lalang. Godiva kemudian keluar dari gerbang istana menunggangi kuda putihnya tanpa sehelai pakaian.

Demi menjaga kesucian dan martabatnya, ia mengurai rambut panjang kemerahannya yang tebal hingga menjuntai menutupi sebagian besar dada dan tubuhnya sebagai selubung alami. Dengan pandangan lurus ke depan, ia melangkah perlahan mengelilingi sudut-sudut kota.

Mitos "Peeping Tom" dan Konsekuensi Sosial

Rakyat Coventry memegang teguh janji mereka untuk menjaga pandangan sebagai bentuk kepatuhan dan rasa terima kasih. Namun, menurut perkembangan cerita di kemudian hari, ada satu pengecualian di tengah kepatuhan massal tersebut. Seorang penjahit lokal bernama Tom tidak mampu menahan rasa penasarannya. Ia membuat lubang kecil di tirai kayu jendelanya untuk mengintip tubuh sosok Godiva yang sedang melintas.

lukisan godiva
Pelanggaran janji yang dilakukan oleh Tom dipercayai mendatangkan kualat seketika. Mitos setempat menceritakan bahwa kedua mata Tom mendadak buta saat itu juga sebagai ganjaran atas perbuatannya yang tidak beretika.

Dari insiden inilah lahir istilah populer dalam bahasa Inggris, "Peeping Tom", yang dicatat pertama kali pada abad ke-17 dan hingga saat ini digunakan secara global untuk menjuluki seseorang yang suka mengintip atau memiliki kebiasaan voyeurism--kelainan atau penyimpangan s3ksual, di mana seseorang merasa terangsang, bergairah, atau puas secara seksual saat mengamati orang lain secara diam-diam tanpa sepengetahuan atau persetujuan korban.

Keberhasilan Misi dan Jejak Sejarah di Kota Coventry

Setelah berhasil menyelesaikan perjalanannya mengelilingi kota dan kembali ke dalam benteng istana, Godiva membuktikan bahwa keberanian dan cinta kasihnya kepada rakyat jauh melebihi rasa takut akan cemoohan maupun pengorbanan harga dirinya.

Earl Leofric, yang tertegun melihat keteguhan hati serta pengorbanan nyata sang istri, tidak memiliki pilihan lain selain menepati janjinya. Ia segera menerbitkan piagam resmi yang menghapuskan hampir seluruh beban pajak berat bagi warga Coventry, kecuali pajak atas kepemilikan kuda.

Sobat viralsbook, Penghapusan pajak tersebut memicu gelombang perubahan besar bagi stabilitas sosial dan ekonomi di wilayah Mercia. Bebas dari cengkeraman sistem Heregald dan penyitaan aset, masyarakat Coventry mulai bangkit dari kemiskinan. Para petani dapat mengolah lahan dengan tenang tanpa rasa cemas akan gagal panen, sementara para pedagang kecil mulai memadati pasar kota.

Kondisi ekonomi yang membaik ini mengubah Coventry dari kawasan pedesaan terpencil menjadi salah satu pusat perdagangan wol dan tekstil paling makmur di Inggris pada Abad Pertengahan. Hubungan antara pihak istana dan rakyat jelata pun menjadi sangat harmonis, menciptakan era perdamaian yang memungkinkan Leofric dan Godiva memperluas pembangunan infrastruktur keagamaan serta sosial di berbagai wilayah sekitar.

Secara kronologi sejarah, Leofric wafat pada tanggal 31 Oktober 1057 dan dimakamkan di Biara St. Mary yang didirikannya bersama sang istri. Sementara itu, Lady Godiva tercatat terus hidup melintasi peristiwa penaklukan bangsa Norman pada tahun 1066, sebelum akhirnya wafat pada kurun waktu antara tahun 1067 hingga 1086.

Nama Godiva diabadikan sebagai salah satu dari sedikit pemilik tanah wanita Anglo-Saxon yang tercatat secara resmi dalam Domesday Book—dokumen sensus dan pertanahan nasional yang disusun oleh Raja William the Conqueror pada tahun 1086.

***

Sobat viralsbook, Kisah aksi berkuda tanpa busana ini pertama kali dibukukan secara tertulis oleh biarawan dan pengarang sejarah (kronikus) Roger of Wendover dalam karyanya Flores Historiarum pada catatan tahun 1057 (yang ditulis ulang sekitar abad ke-13).

Patung Lady Godiva
Penghormatan masyarakat Coventry terhadap sosok pahlawan wanita ini terus berlanjut hingga abad modern. Pada tahun 1678, warga kota memulai tradisi tahunan Godiva Procession sebagai bagian dari Festival Coventry. Puncak pemabadian sejarah ini ditandai dengan peresmian Patung Perunggu Lady Godiva karya seniman Sir William Reid Dick di Broadgate, pusat kota Coventry, pada tanggal 22 Oktober 1949.

Hingga kini, monumen tersebut berdiri kokoh sebagai simbol abadi dari keberanian, empati, dan perjuangan keadilan sosial bagi rakyat kecil. (vb)


[Referensi] familysearch.org: Leofric, Earl of Mercia (955 - 1057) / alchetron.com: Leofric,-Earl-of-Mercia / Leofric, Earl of Mercia Wikipedia (Text) CC BY-SA / www.wikiwand.com: Leofric, Earl of Mercia / niceartgallery.com / inton-research-fund-inc.com: Leofric (968–1057) “the Great MALET” Earl of Mercia & Lady Godiva GODGIFU (990–1067) Countess of Mercia / www.geni.com: Lady Godiva / tripadvisor.com / en.wikipedia.org: Lady Godiva / www.robertsewell.ca: Lady Godiva / arkturnthehearts.blogspot.com: Family Legends: Lady Godiva / britannica.com: Leofric / paulaloftinghistoricalnovelist.wordpress.com: The Road to Hastings and other Stories / penelope.uchicago.edu: Lady Godiva (Godgifu)