Peribahasa lama berbunyi “kasih orang tua sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah”, Pepatah itu benar adanya. Kisah-kisah ini yang membuktikannya. Di ujung usia senja, bukannya mendapatkan perlindungan dan kasih saying, justru mendapati diri mereka tersingkir dari rumah sendiri, oleh anak kandung sendiri, dengan dalih kesibukan dan himpitan ekonomi.

Daftar Isi

    VIRALSBOOK - Di panti-panti sosial, pemandangan orang tua yang termenung di kursi roda bukan lagi hal asing. Mereka datang bukan atas keinginan sendiri, melainkan diantar oleh anak-anak yang melahirkan atau membesarkan mereka dulu. Selembar surat bermaterai disodorkan, tanda tangan dibubuhkan, dan seketika itu juga status sebagai anak seolah gugur demi membuang beban.

    Praktik semacam ini menunjukkan bagaimana hubungan darah bisa dengan mudah diputus ketika fisik orang tua mulai melemah dan butuh perawatan ekstra. Alasan klasik mulai dari kesulitan ekonomi hingga rumah yang sempit kerap dijadikan pembenaran. Padahal, di balik alasan-alasan itu, ada keputusan sadar untuk menyingkirkan tanggung jawab merawat mereka yang sudah renta.

    Sobat viralsbook, kumpulan kisah ini merangkum realitas pahit nasib orang tua tanpa polesan dramatis yang berlebihan. Ini bukti kondisi sebagian anak memilih menutup pintu rumah rapat-rapat bagi orang tua mereka. Orang tua dapat merawat 10 anaknya, tetapi seorang anak belum tentu mampu merawat orang tuanya.

    Rupanya, zaman lagi ngetrend dengan anak durhaka ke orang tuanya sendiri. Tak ingatkah mereka dengan perjuangan orang tua mereka dulu saat membesarkan, merawat, dan mendidik? Entahlah.

    Suharyono, Dibuang Anak Kandungnya ke Panti Lansia

    Suharyono, Dibuang Anak Kandungnya ke Panti Lansia
    Di usianya yang menginjak 78 tahun, ingatan Pak Suharyono masih sangat tajam di tengah kepedihan hidup yang harus ia terima dari darah dagingnya sendiri. Sejak sang istri berpulang pada tahun 2018, kakek asal Desa Tenaru, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, Jawa Timur ini sempat luntang-lantung hingga ditampung oleh warga di dekat punden desa sebelum akhirnya diserahkan oleh anak kandung perempuan beserta menantunya. Peristiwa penyerahan mutlak ke Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, Jawa Timur ini terjadi pada Selasa, 13 Oktober 2026.

    Sebelum diantar ke panti sosial tersebut, Pak Suharyono sempat bertahan hidup dengan dirawat oleh seorang juru kunci makam desa sambil menjaga kebugaran tubuhnya dengan rutin menyapu dan mengepel lantai secara mandiri. Ketika proses serah terima dilakukan, Ketua Yayasan Arief Camra sempat meminta keluarga untuk mempertimbangkan kembali keputusan itu karena kondisi fisik beliau yang masih sehat. Namun, anak dan menantunya tetap bersikeras melakukan penyerahan mutlak dengan menandatangani surat bermaterai yang memuat klausul bahwa jika sang ayah kelak meninggal dunia, pihak panti tidak perlu mengabari pihak keluarga.

    Menghadapi kenyataan pahit ditolak keluarga dan diminta untuk tidak dicari lagi, Pak Suharyono justru tetap tenang dan melemparkan senyuman getir tanpa ada amarah sedikit pun di wajahnya. Beliau mengaku tidak mengetahui secara pasti letak kesalahannya meski telah berulang kali meminta maaf, serta memilih untuk pasrah menyerahkan seluruh sisa hidupnya kepada Sang Pencipta dengan penuh keikhlasan.

    Anak Rela Lepas Ibunya ke Griya Lansia Tanpa Syarat Bertemu

    Anak Rela Lepas Ibunya ke Griya Lansia Tanpa Syarat Bertemu
    Ruangan itu mendadak sunyi ketika seorang ibu paruh baya hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhnya lumpuh total akibat penyakit stroke. Peristiwa pahit ini terjadi di Desa Gemarang, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada Selasa, 15 September 2026. Di rumah sederhana itulah, perempuan bernama Dwi Indriyani hanya bisa pasrah ketika anak kandungnya, Naryo yang berasal dari Randudongkal, Pemalang, memutuskan membawanya pergi. Sang anak secara permanen menyerahkan ibunya sendiri ke Griya Lansia Husnul Khatimah di Malang.

    Sebelum proses penerimaan disetujui, Ketua Yayasan Arief Camra memberikan syarat dan konsekuensi tegas karena lembaga tersebut bukanlah tempat penitipan orang tua biasa. Sang anak dilarang total untuk menjenguk ibunya kembali hingga akhir hayat serta tidak akan dihubungi apabila ibunya meninggal dunia. Meskipun telah mengetahui risiko pembuangan total tersebut, Naryo tetap menyatakan bersedia dan menandatangani surat pernyataan bermaterai yang juga berisi penyerahan urusan pemakaman sepenuhnya kepada pihak panti tanpa perlu mengabari keluarga.

    Di tengah keputusan berat yang diambil oleh darah dagingnya sendiri, sang ibu hanya bisa terbaring lemah sambil memanggil-manggil nama anaknya dengan suara lirih. Akhirnya, seluruh sisa hari-hari tua dan perawatan medis wanita paruh baya tersebut sepenuhnya beralih di bawah naungan pengasuhan panti sosial.

    Diusir Anak Kandung dan Ditemukan Tergeletak di Pinggir Sawah

    Diusir Anak Kandung dan Ditemukan Tergeletak di Pinggir Sawah
    Kisah memilukan ini terjadi di Desa Jambangan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Mbah Nortaji, Seorang lansia (76 tahun) harus mengalami perlakuan tragis dari anak kandungnya sendiri. Dalam sebuah video yang viral di media social pada Jumat, 25 Juli 2025, terlihat Mbah Nortaji didorong dan dipukuli oleh anaknya yang bernama Misrika hingga jatuh tersungkur. Warga yang melihat kejadian ini histeris dan langsung memberikan pertolongan.

    Usai diusir secara paksa dari rumah, jejak Mbah Nortaji baru ditemukan menjelang malam di pinggir jalan raya dekat hamparan sawah. Kondisinya sangat memilukan—terbaring tak berdaya dengan pakaian dan kain jarik yang tersingkap acak-acakan menutupi tubuh rentanya. Warga sekitar yang menyaksikan kejadian itu mendapati sang nenek sudah tak berdaya dan sering berbicara sendiri. Di balik kejadian ini, terungkap adanya konflik yang sudah lama terpendam di antara keduanya. Menurut pengakuan Misrika, ia nekat mengusir ibunya karena diliputi rasa trauma dan takut akibat pernah akan dibunuh oleh saudaranya atas perintah sang ibu.

    Saat proses mediasi dilakukan, Misrika dengan tegas tetap menolak merawat Mbah Nortaji karena merasa sudah cukup sakit hati. Pihak Pemerintah Desa bersama Dinas Sosial Probolinggo lantas turun tangan mencari solusi terbaik, meski rencana pemindahan ke panti milik Pemprov di Jember sempat terhalang penuhnya kapasitas. Akhirnya, Mbah Nortaji dievakuasi oleh petugas Griya Lansia Malang yang datang langsung ke lokasi untuk merawatnya di tempat yang lebih aman dan layak.

    Siti Fatimah Dititipkan ke Panti 4 Anaknya Tak Mampu Merawat

    Siti Fatimah Dititipkan ke Panti 4 Anaknya Tak Mampu Merawat
    Di usia 65 tahun, Siti Fatimah harus menelan kenyataan pahit dititipkan ke panti sosial oleh darah dagingnya sendiri. Peristiwa yang sempat terekam kamera dan viral itu berlangsung pada Rabu, 16 Juli 2025 di Jalan Perlis Selatan, Surabaya, Jawa Timur. Sang anak mendatangi Griya Lansia Husnul Khatimah Malang untuk menyerahkan pengasuhan ibunya secara penuh. Keterbatasan tempat tinggal jadi alasan utama. Sang anak mengaku hanya menumpang di rumah sepupunya, hingga merasa tak lagi punya ruang layak untuk merawat orang tua yang kian renta.

    Penyerahan itu sempat memicu emosi publik karena dianggap sebagai aksi pembuangan orang tua tanpa kepedulian. Padahal, Lukman Arif selaku anak kandung mengaku terpaksa mengambil keputusan sulit tersebut. Tiga saudaranya sibuk mengadu nasib di luar kota, sementara ia sendiri keteteran harus membagi fokus antara mencari nafkah dan mengawasi ibunya sendirian. Pemerintah Kota Surabaya lewat pihak kecamatan sebenarnya sempat menawarkan opsi pemulangan. Namun, pihak keluarga bergeming dan memilih agar sang ibu tetap menetap di panti demi mendapat perawatan yang lebih memadai.

    Di balik polemik video yang sempat viral di tengah masyarakat, Siti Fatimah akhirnya menjalani hari-hari tuanya di bawah naungan yayasan sosial. Segala keperluan harian dan pengawasannya kini sepenuhnya diserahkan kepada pihak panti agar mendapatkan penanganan yang lebih stabil.

    Ibu Nasikah Dititipkan Anak di Panti Lansia Alasan Rumah Sempit

    Ibu Nasikah Dititipkan Anak di Panti Lansia Alasan Rumah Sempit
    Masuk usia 74 tahun, Ibu Nasikah justru harus menelan pahitnya disingkirkan dari tengah keluarga. Dua anak perempuannya sepakat menyerahkan urusan pengasuhan sang ibu kepada pihak luar. Keputusan itu bermula di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Rabu, 2 Juli 2025. Rumah yang sempit dan keterbatasan tenaga jadi alasan anak-anaknya angkat tangan. Mereka mengaku tak sanggup lagi mengawasi kondisi fisik sang ibu yang makin renta dan rentan terserang sakit.

    Langkah Ibu Nasikah berujung di Griya Lansia Husnul Khatimah, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang ditandai dengan selembar surat pernyataan bermeterai. Dokumen pemindahan pengasuhan itu berisi penyerahan mutlak seluruh perawatan jangka panjang kepada pihak yayasan. Tak sekadar menitipkan, ada klausul dingin di dalamnya: keluarga memutuskan melepas seluruh ikatan pengawasan sekaligus meminta pihak panti untuk tidak perlu menghubungi mereka jika terjadi hal buruk atau kematian pada sang ibu di kemudian hari.

    Menghadapi kenyataan pahit dititipkan oleh darah daging yang dilahirkannya sendiri, Ibu Nasikah hanya bisa pasrah menjalani hari-hari senjanya bersama para lansia lain di panti sosial. Segala keperluan medis, sandang, dan pangan wanita paruh baya asal Jawa Timur ini kini sepenuhnya berada di bawah naungan penuh pihak yayasan hingga akhir hayatnya.

    Pak Totok Dititipkan ke Panti Lansia Akibat Sakit Stroke

    Pak Totok Dititipkan ke Panti Lansia Akibat Sakit Stroke
    Di usia senjanya yang menginjak 65 tahun, Pak Totok harus menerima kenyataan pahit ketika dua anak kandungnya, Desy dan Deny memilih melepas tanggung jawab pengasuhan. Peristiwa pilu ini bermula pada Senin, 18 Desember 2023 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Dalam kondisi fisik yang merosot tajam akibat stroke, ia dijemput oleh kedua anaknya. Perjalanan itu berujung di Griya Lansia Husnul Khatimah, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di sana, mereka menyerahkan sang ayah secara permanen untuk dirawat pihak panti.

    Kasus ini seketika memantik kehebohan publik begitu isi surat perjanjian bermaterai itu terungkap ke permukaan. Di dalam dokumen tersebut, terselip klausul ekstrem yang meminta pengurus panti agar tidak perlu mengabari anak-anaknya jika kelak sang ayah meninggal dunia. Keputusan untuk memutus tali silaturahmi secara mutlak ini langsung memicu gelombang keprihatinan luas mengenai rapuhnya nurani dan hilangnya rasa bakti anak kepada orang tua.

    Meski harus menjalani sisa hidup tanpa kehadiran darah daging yang dibesarkannya, Pak Totok tetap tabah menerima keadaan di panti sosial. Seluruh kebutuhan perawatan harian dan medis kakek asal Surabaya tersebut kini sepenuhnya ditangani pengurus yayasan hingga akhir hayatnya.

    Ayah Diserahkan ke Panti Sosial Usai Ditinggal di Tempat Sampah

    Ayah Diserahkan ke Panti Sosial Usai Ditinggal di Tempat Sampah
    Peristiwa pilu menggemparkan warga Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Betapa tidak, seorang ayah dengan kursi rodanya ditinggalkan begitu saja pada lokasi pembuangan sampah. Peristiwa ini terjadi pada Rabu, 9 Agustus 2023. Mirisnya, tindakan tak terpuji ini dilakukan oleh anak kandungnya sendiri, Ambon, bersama saudaranya yang bersepakat melepas beban merawat sang ayah, akrab disapa Kakek Muin, yang saat itu berusia 78 tahun.

    Tindakan tersebut langsung menuai sorotan masif setelah rekaman mediasi antara penggiat sosial Pratiwi Noviyanthi, warga, dan dinas sosial beredar luas di media sosial. Setelah mendapat desakan keras dari pengurus RT setempat serta pihak Dinas Sosial Jakarta Barat, pihak anak yang semula enggan merawat akhirnya menyetujui langkah pemindahan. Mereka menandatangani kesepakatan penyerahan penuh atas penanganan dan pengasuhan harian sang ayah.

    Kini, kakek renta berkursi roda tersebut telah dipindahkan dari lokasi pengabaian dan ditempatkan di panti sosial. Seluruh pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, hingga perawatan medisnya dialihkan sepenuhnya kepada lembaga pelayanan sosial demi menjamin sisa hidupnya yang lebih layak.

    Ibu Trimah Diserahkan Tiga Anaknya ke Panti Lansia Malang

    Usia 69 tahun memaksa Trimah menelan pil pahit akibat keputusan tiga anak kandungnya yang sepakat melepas tanggung jawab merawat. Peristiwa menyayat hati itu bertempat di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis, 28 Oktober 2021, sebelum ia pun diantar menuju Griya Lansia Husnul Khatimah berlokasi di Wajak, Kabupaten Malang. Keputusan tersebut diambil berdalih anak-anaknya telah berumah tangga serta menumpang mertua, sementara kondisi rumah dan keuangan dinilai tak lagi memungkinkan merawat sang ibu secara mandiri.

    Surat pernyataan bermaterai yang diteken ketiga anaknya mempertegas penyerahan tersebut. Melalui dokumen itu, pihak keluarga menyerahkan penuh urusan perawatan hingga proses pemakaman sang ibu kepada yayasan panti sosial. Poin penyerahan total ini seketika menyulut perdebatan sengit publik, yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk pelepasan tanggung jawab anak terhadap orang tua yang dulu membesarkan mereka.

    Meski harus menghadapi kenyataan pahit dititipkan oleh darah dagingnya sendiri, Trimah tetap tabah menjalani hari-hari barunya bersama para penghuni panti lainnya. Di balik kepasrahan tersebut, wanita paruh baya asal Magelang ini masih menyimpan harapan besar agar kelak anak-anaknya mau datang kembali untuk menjemput dan membawanya pulang.

    Udjan Susanto, Ditemukan Terlantar di Atas Got Usai Ditolak Anak Kandung

    Di usia senjanya yang menginjak 74 tahun, Udjan Susanto harus merasakan kepedihan mendalam ketika anak kandungnya sendiri menolak mengakui keberadaannya sebagai orang tua. Peristiwa memilukan ini bermula pada Kamis, 7 Desember 2017 ketika ia ditemukan tergeletak tak berdaya di atas saluran air atau got depan SD Widuri Indah, Kelurahan Duri Utara, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Kondisinya saat itu sangat memprihatinkan karena sudah empat hari terlantar dalam keadaan sakit dan mengalami penurunan fisik yang parah.

    Saat petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Barat bersama pihak kelurahan melacak keberadaan keluarganya, salah satu anak kandungnya yang bernama Sumarno Susanto justru bersikap menolak. Di hadapan petugas, pihak keluarga membuat dan menandatangani surat pernyataan bermaterai yang menyatakan bahwa mereka sudah tidak memiliki hubungan serta ikatan lagi sebagai anak sejak 2012. Surat penolakan tersebut turut disahkan dengan cap Ketua RT dan RW setempat guna melepaskan segala bentuk tanggung jawab pengasuhan.

    Meski ditelantarkan oleh darah dagingnya sendiri, Udjan Susanto mengaku masih menyimpan rasa sayang kepada anak-anak yang pernah dibesarkannya. Melihat kondisi kesehatan yang memburuk, ditambah mengidap diabetes akut, pihak Suku Dinas Sosial Jakarta Barat, mengevakuasinya menggunakan ambulans gawat darurat menuju RSUD Tarakan, Jakarta Pusat.

    Samanto Asal Nganjuk Dibuang Anak Kandung di Pinggir Jalan Saat Malam Takbiran

    Suasana malam Idul Fitri yang harusnya penuh dengan kehangatan keluarga malah jadi mimpi buruk bagi Samanto. Peristiwa yang menyayat hati menimpa warga asal Desa Brebeg, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, itu terjadi pada malam takbiran, Selasa, 5 Juli 2016. Waktu itu, Samanto diajak berkeliling oleh anak kandungnya. Dalihnya jalan-jalan, sebelum akhirnya diturunkan di suatu sudut ruas jalan Kota Surabaya, lalu dengan teganya tanpa belas kasihan meninggalkan Samanto begitu saja.

    Tindakan kejam tersebut dilakukan oleh anak kandungnya lantaran sang ayah sudah jatuh sakit, mengalami stroke menahun, serta tidak lagi berdaya untuk beraktivitas. Sebelum insiden pembuangan tersebut, Samanto yang semasa mudanya bekerja sebagai petugas keamanan pabrik makanan ternak juga kerap menyaksikan perlakuan kasar anak tersebut terhadap istrinya sendiri. Puncaknya, ia tidak hanya dibuang ke jalanan kota besar, tetapi juga dipisahkan secara paksa dari sang istri tercinta hingga terputus kontak.

    Beruntung, kakek renta yang menanggung rindu mendalam untuk bisa sungkeman dan berlebaran bersama keluarga ini berhasil ditemukan oleh petugas Satpol PP Kota Surabaya. Ia kemudian dievakuasi dan menjalani hari-hari tuanya di bawah naungan Griya Werda, panti jompo milik Dinas Sosial Kota Surabaya, dengan meratapi nasib malang akibat dibuang oleh darah daging yang pernah dibesarkannya.

    ***

    Merawat orang tua di hari tua jangan dianggap sebagai beban yang melelahkan, melainkan kesempatan untuk berbakti. Jadikan pengasuhan ke orang tua sebagai pengabdian tanpa batas, seperti halnya mereka berikan saat merawat kita kecil dulu. Semua agama mewajibkan anak senantiasa berbakti kepada ayah dan ibu.

    Ketika mereka tak kuat lagi dan butuh perlindungan, kehadiran anak adalah bentuk dukungan paling nyata yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun. Seharusnya rumah tetap menjadi tempat teraman bagi mereka bersandar dan berlindung, bukan ruang asing sarat cemas serta keterasingan.

    Nilai sebuah keluarga diuji bukan pada saat keadaan berjalan mudah, melainkan saat badai dan keterbatasan datang menguji kesabaran. Menjaga orang tua renta menuntut kelapangan dada, kesediaan meluangkan waktu, serta empati yang konsisten di tengah kesibukan harian yang padat. Bagaimanapun juga, merawat mereka di masa tua adalah siklus alami kehidupan yang kelak akan dipahami dan dirasakan oleh setiap generasi secara bergantian. (vb)

    Referensi: malang-post.com: Mbah Suharyono Tetap Tersenyum, Meski Diserahkan Total ke Griya Lansia Husnul Khatimah / komparatif.id: Seorang Ibu di Ngawi, Dwi Indriyani, Dibuang ke Griya Lansia oleh Anaknya / surabaya.tribunnews.com: 6 Fakta Menyayat Hati Ibu Fatimah, Lansia Asal Surabaya yang Diserahkan Anak ke Panti di Malang / kompas.com: Kisah Nasikah, Lansia yang Disebut "Dibuang" Anaknya, Tinggal Berlima di Sidoarjo / surabaya.tribunnews.com: Profil Griya Lansia Malang, Panti Jompo Tempat Pak Totok Tinggal Usai Diserahkan Anaknya / cnnindonesia.com: Dititipkan ke Panti Jompo oleh 3 Anaknya, Trimah Minta Dijemput / merdeka.com: Viral Kakek Pakai Kursi Roda Dibuang Anak di Tempat Sampah Cengkareng / cnnindonesia.com: Dititipkan ke Panti Jompo oleh 3 Anaknya, Trimah Minta Dijemput / dream.co.id: Alasan Anak Lelaki Telantarkan Bapaknya di Jakarta Barat / solo.tribunnews.com: Mengapa Ada Anak Tega Membuang Orang Tuanya Ini Penjelasan Psikolog