Selain menghabisi korbannya secara sadis, Wanita paruh baya ini memutilasi, memasak bahkan mengubah korbannya menjadi adonan kue dan sabun. Itu saja? Tidak! Ia lalu membagikan sabun dan kue-kue tersebut kepada tetangga dan kerabatnya! kisah seorang ibu asal Itali yang dikenal sebagai "The Soap Maker of Correggio" (Pembuat Sabun dari Correggio)
VIRALSBOOK.COM - Dari banyaknya kisah nyata kekejaman pembunuhan berantai di dunia, kasus pembunuhan di Itali ini tampaknya tergolong sangat sadis. Walaupun korbannya hanya sedikit, namun kisah nyata pembunuhan berantai yang dilakoni Wanita paruh baya bernama Leonarda Cianciulli melebihi dari apa yang dilakukan seorang pembunuh berantai. Menghabisi 3 wanita tetangganya sendiri, dan melakukan perbuatan yang nyaris tak masuk akal ke jasad korbannya.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa perilaku sadis memang nyata dan akan melebihi dari apa yang diperkirakan sebelumnya. Ada banyak penyebab seseorang bisa berperilaku sadis, salah satunya adalah didasari oleh gangguan jiwa. Cianciulli mungkin masuk dalam kategori ini, tetapi jika melihat latar belakang kehidupan pribadi dan rumah tangganya, semuanya berjalan normal.
Awal Kehidupan Leonarda Cianciulli
Leonarda Cianciulli lahir pada 18 April 1894 di Montella, Avellino. Sayangnya, ia lahir dari kisah tragedi—ibunya, Emilia, hamil akibat diperkosa. Karena rumor kehamilan itu terlanjur menyebar luas dan bikin geger warga setempat, Emilia (ibunda Leonarda) akhirnya dipaksa menikah dengan si pelaku yang bernama Mariano Cianciulli.Pernikahan tanpa cinta ini dibelit kemiskinan parah. Hidup mereka bukannya membaik, malah makin terpuruk begitu Mariano meninggal dunia. Ibu Leonarda sempat menikah lagi, tapi roda ekonomi keluarga tetap berada di titik terendah. Di tengah himpitan hidup itu, Leonarda justru jadi sasaran amarah.
Ibu Leonarda sangat membenci putrinya—mungkin karena tiap kali melihat Leonarda, bayangan peristiwa kekerasan seksual yang dialaminya dulu mendadak muncul kembali. Penderitaan ini membuat masa kecil hingga remaja Leonarda diwarnai oleh kekerasan fisik serta siksaan mental yang tiada henti dari sang ibu.
Penderitaan lahir batin yang ia alami di rumah benar-benar merusak mentalnya. Leonarda yang didera depresi berat bahkan sampai nekat mencoba mengakhiri hidupnya sendiri sebanyak dua kali sewaktu ia masih belia.
Hubungan ibu dan anak ini akhirnya hancur total saat Leonarda nekat menikah dengan seorang pegawai catatan sipil bernama Raffaele Pansardi. Keputusan tersebut dibuat tanpa restu ibunya. Karena terlanjur murka, sang ibu pun melemparkan sumpah serapah kepada Leonarda. Sumpah itulah yang kelak terus membayangi pikirannya, memicu ketakutan berlebih, hingga akhirnya mendorongnya melakukan rentetan aksi pembunuhan sadis.
Kehidupan Rumah Tangga Leonarda
Cianciulli dipinang oleh laki-laki mapan, seorang pegawai kantor bernama Raffaele Pansardi disaat usianya 23 tahun. Namun sayang, pernikahan Cianciulli tak direstui orang tuanya. Alasannya, Cianciulli telah dijodohkan. Ia akan dinikahkan dengan pria lain pilihan orang tuanya.Entah apa yang salah dengan Raffaele Pansardi, pria pilihan Cianciulli sehingga timbul keretakan hubungan antara Cianciulli dan orang tuanya, terutama ibunya, sampai-sampai ibu Cianciulli mengutuk putrinya hingga hidupnya berantakan setelah itu.
Di tahun 1921, Cianciulli kemudian akhirnya memilih untuk pindah ke kampung halaman suaminya, Pansardi di Lauria, Potenza. Pasangan suami istri ini memulai kehidupan rumah tangganya yang baru setelah sebelumnya berada di Montella tanpa dukungan orang tua Cianciulli. Bertahun-tahun tinggal di Potenza, Cianciulli justru seringkali berurusan dengan kepolisian setempat.
Cianciulli yang sempat ditahan tahun 1927 akibat terlibat kasus penipuan, kemudian bebas. Setelah itu, Cianciulli dan suaminya kembali memutuskan untuk pindah. Kali ini tempat yang dituju adalah Lacedonia. Namun tampaknya nasib baik belum memihak di kehidupan rumah tangga mereka. Baru beberapa saat merasakan hidup damai di Lacedonia, rumah mereka hancur diterjang gempa Irpinia yang melanda wilayah itu di tahun 1930.
Pada akhirnya, pasangan ini kemudian memilih untuk pindah lagi. Tujuan untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi rumah tangga mereka yakni ke Correggio, Reggio Emilia, di mana mereka akhirnya mampu membuka sebuah toko kecil di kota ini. Dari sinilah awal kehidupan rumah tangga Leonarda Cianciulli yang sesungguhnya dan permulaan rentetan kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Tinggal dan menetap di Correggio, Reggio Emilia, rupanya membuat kehidupan rumah tangga keluarga kecil ini sedikit berubah. Pasutri ini dikenal para tetangganya sebagai orang yang baik, ramah dan suka membantu tetangga yang membutuhkan bantuan. Tak heran, pasangan ini cukup disegani dan dihormati di lingkungan tempat mereka tinggal.
Dari kehidupan rumah tangga pasangan ini, mereka dikaruniai 17 orang anak. Namun sayangnya, Cianciulli dan suaminya beberapa kali harus rela kehilangan anak mereka. Selama bertahun-tahun, sepanjang perjalanan hidup mereka saat pindah dari satu kota ke kota lainnya, 13 dari 17 anaknya meninggal dunia, bahkan disaat usia mereka belum mencapai 10 tahun.
Cianciulli sebenarnya selalu dihantui oleh ramalan paranormal yang ditemuinya saat dirinya masih muda dulu. Cianciulli merasa jika ramalan paranormal itu ada benarnya. Kala itu, paranormal yang ditemuinya membaca garis tangan Cianciulli. Ia diberitahukan akan melahirkan anak yang banyak, tapi anak-anaknya itu akan meninggal di usia yang sangat muda. Sang peramal juga menerawang massa depan Cianciulli dengan jeruji besi penjara di tangan kanannya, dan rumah sakit jiwa di tangan kirinya.
Ramalan paranormal tersebut tampaknya sangat berbekas mendalam di dalam sanubari Cianciulli. Hanya 4 anak yang akhirnya dapat bertahan hidup sampai usia dewasa. Ia yang telah kehilangan hampir semua anak yang dilahirkannya, kemudian menjadi over protective pada keempat anaknya yang tersisa, terutama pada anak laki-laki tertua yang merupakan anak kesayangannya, bernama Giuseppe.
Periode Pembunuhan (1939-1940)
Di tahun 1939, Giuseppe, anak tertua Cianciulli, harus bergabung dengan angkatan militer Italia sebagai persiapan menjelang Perang Dunia II. Mendengar rencana putranya yang akan berangkat ke medan pertempuran, benak Cianciulli selalui dihantui pikiran buruk. Ia begitu khawatir dan ketakutan kalau putranya tewas dalam pertempuran nanti dan tak akan pernah kembali lagi. Sebagai ibu, Ia tidak mau mimpi buruk itu menjadi kenyataan.Maka, wanita paruh baya itu kemudian berpikir keras memutar otak bagaimana caranya melindungi anaknya, Giuseppe. Entah setan apa yang telah merasuki jalan pikirannya, sebuah ide gila tiba-tiba ada dalam otak Cianciulli.
Ia berpendapat, agar anaknya selamat selama bertugas di medan pertempuran nanti, ia harus melakukan "pengorbanan manusia". Itu artinya, Cianciulli harus mencari orang-orang yang akan dijadikan tumbal menurut pemikirannya. Pada akhirnya, Cianciulli kemudian menemukan target korbannya. Mereka adalah wanita-wanita paruh baya yang tak lain adalah tetangga Cianciulli sendiri.
Korban pertama Cianciulli bernama Faustina Setti. Ia adalah seorang perawan tua yang datang pada Cianciulli untuk meminta tolong padanya mencarikan jodoh. Cianciulli lalu mengatakan bahwa ada seorang pria yang akan berjodoh dengannya tinggal di Pola. Ia lalu meminta Faustina Setti berangkat ke sana. Namun sebelumnya Cianciulli mengatakan bahwa wanita tersebut tak boleh memberitahukan atau menceritakan hal ini pada siapa pun juga.
Setti pun menyanggupinya. Sebelum berangkat ke Pola, Cianciulli memberi syarat pada wanita itu harus mengirim surat pada keluarganya dan mengabarkan bahwa ia baik-baik saja. Cianciulli juga menerima pembayaran sebesar 30.000 lire dari Setti sebagai jasa pencarian jodoh.
Setti mampir sebentar ke rumah Cianciulli sebelum berangkat ke Pola. Kedatangan wanita itu ke rumah Cianciulli ternyata adalah kali terakhir ia menghirup udara segar. Di rumah naas tersebut, Cianciulli menawarkan segelas minuman anggur pada Setti, yang sebelumnya telah dicampur obat. Setti yang kemudian mabuk langsung ditebas menggunakan kapak.
Setti roboh seketika ke lantai dengan tubuh bersimbah darah. Cianciulli lalu menyeret jasad itu ke kamar mandi dan dengan sadisnya memutilasi anggota tubuhnya menjadi 9 bagian. Sementara itu darahnya ditampung dalam sebuah wadah berbentuk baskom.
Pengakuan Cianciulli saat diinterogasi, apa yang dilakukannya terhadap korban setelah dimutilasi saat itu adalah, memasukkan potongan tubuh korban ke dalam panci, menambahkan 7 kilo soda pedas yang dibelinya untuk membuat sabun. Lalu semuanya diaduk rata dengan potongan-potongan tubuh korban hingga larut menjadi bubur, kemudian dituangkan ke dalam wadah.
Darah korban-korbannya pun demikian, dimasukkan ke dalam baskom lalu ditunggu hingga membeku. Setelah itu dimasukkan ke dalam oven. Lalu mencampurnya dengan tepung, gula, coklat, susu, telur, dan juga margarin. Semua bahan-bahan itu kemudian dibuat menjadi kue kering yang disajikan pada gadis-gadis yang berkunjung ke rumahnya, untuk dimakan anaknya Giuseppe dan ia pun memakannya. Benar-benar mengerikan ya Sobat viralsbook.
Pembunuhan korban pertama nyaris tanpa jejak, Korban kedua Cianciulli bernama Francesca Soavi. Menurut pengakuannya, ia membantu wanita itu untuk mencarikannya pekerjaan di sebuah sekolah wanita di Piacenza. Sama seperti Setti, Soavi juga diminta untuk menuliskan kartu pos yang ditujukan pada keluarga dan teman-temannya, sekedar mengabarkan bahwa ia baik-baik saja.
5 September 1940, sama halnya seperti Setti, sebelum berangkat ke Piacenza, Soavi mengunjungi rumah Cianciulli tanpa menyadari hari itu merupakan kunjungan terakhirnya. Setelah disuguhi minuman wine yang sudah dicampur obat, wanita itu tak sadarkan diri. Cianciulli yang melihat kesempatan ini tak menyia-nyiakannya. Ia langsung mengambil kapak dan dengan teganya menghabisi wanita malang tersebut. Tubuh Soavi diperlakukan sama halnya seperti Setti. Menurut pengakuan Cianciulli, ia mendapatkan 3.000 lire dari korban keduanya ini.
Virginia Cacioppo, seorang mantan penyanyi di La Scala merupakan korban ketiga sekaligus yang terakhir. Menurut pengakuan Cainciulli, modusnya kali ini sama dengan yang kedua, mencarikan wanita itu pekerjaan sebagai seorang sekretaris di Florence. Sama halnya dengan korban pertama dan kedua sebelumnya, Cacioppo diminta menulis surat pada keluarganya yang isinya mangabarkan dirinya dalam keadaan baik-baik saja. Cacioppo juga diingatkan untuk tidak menceritakan hal tersebut pada siapa pun. Cacioppo pun menyanggupinya.
Pada tanggal 30 September 1940, Cacioppo mengunjungi rumah Cianciulli, tanpa menyadari bahwa hari itu adalah hari terakhirnya. Pola dan cara pembunuhannya pun sama. Hanya saja, tak seperti Setti dan Soavi yang jasadnya dijadikan adonan Kue, mayat Cacioppo dilelehkan untuk dijadikan sabun.
Menurut Cianciulli, tubuh wanita itu putih dan gemuk. Ia menambahkan pewangi, mendidihkannya, dan menjadikannya sabun yang kemudian dibagikan kepada tetangganya. Selain menghabisi Cacioppo, Cianciulli juga mengambil 50.000 lire dan juga berbagai macam perhiasan wanita tersebut.
Terungkapnya Kasus Pembunuhan
Pembunuhan sadis yang dilakukan Cianciulli tergolong sangat rapi, sebab tak ada yang mencurigainya sama sekali. Hanya saja, menurut Cianciulli, pada korban ketiganya ia melakukan kesalahan hingga akhirnya seluruh kejahatannya terbongkar.Kesalahan apa yang dilakukannya sahabat viralsbook? Cianciulli tak menyadari bahwa Cacioppo memiliki seorang saudara ipar yang telah menaruh curiga padanya. Wanita saudara iparnya itu sempat melihat Cacioppo terakhir kali terlihat masuk ke dalam rumah Cianciulli, dan setelah itu tak pernah terlihat untuk selama-lamanya. Terlebih lagi, Ia tak percaya pada surat yang dikirim Cacioppo yang mengabarkan dirinya baik-baik saja.
Saudara ipar Cacioppo itu kemudian berniat akan menyelidiki Cianciulli. Saat malam tiba, secara diam-diam nekad masuk ke dalam rumah Cainciulli dan menemukan bukti-bukti pembunuhan. Wanita itu pun kemudian melaporkannya pada pihak kepolisian.
Cianciulli yang diinterogasi menolak segala tuduhan bahwa ia telah membunuh Cacioppo. Polisi kemudian menaruh curiga yang melakukan pembunuhan adalah putranya, Giuseppe. Namun, setelah putra kesayangannya itu dituduh bersalah, Cianciulli segera mengakui semua perbuatannya.
Bukan hanya mengakui tindakan pembunuhan keji yang dilakukannya, wanita itu juga menjelaskan secara detail demi detail apa yang telah ia lakukan pada para korbannya termasuk memotong-motong tubuh mereka, merebusnya, hingga merubahnya menjadi kue dan sabun.
Cianciulli ditahan di Reggio Emilia pada tahun 1946. Dalam pengakuannya, ia tampak tak menyesali perbuatannya. Cianciulli dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 30 tahun penjara dan 3 tahun masa tahanan perawatan di rumah sakit jiwa.
Cianciulli meninggal dunia pada tahun 1970 di usia 79 tahun, di tahun-tahun terakhir masa tahanannya di rumah sakit jiwa. Cianciulli meninggal dunia akibat adanya pendarahan otak saat berada di rumah sakit jiwa wanita di Pozzvoli pada tanggal 15 Oktober 1970. Jasadnya lalu dikembalikan pada keluarga untuk dimakamkan.
***
Sobat viralsbook, hingga saat ini berbagai barang-barang bekas yang dipakai pelaku pada kasus pembunuhan ini, termasuk kapak dan juga panci yang digunakan untuk merebus korban mutilasinya, dipamerkan di Criminologi Museum di Roma, Italia. (vb)





