Jumat, 08 Desember 2017

Punya Murid Pendiam dan Tak Pernah Senyum, Guru Ini Temukan Fakta Mengejutkan

Dia mampu membaca setiap karakter murid, hingga murid pendiam dan tak pernah senyum pun dia hadapi dengan gayanya sendiri, Kisah dan curhatnya viral!




VIRALSBOOK.COM - Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah, karena seorang guru tak hanya berkewajiban untuk mengajar. Guru juga berkewajiban mengatur kondisi kelas agar kondusif untuk belajar.

Belum lagi menghadapi berbagai tipe siswa yang beragam, lebih menuntut guru untuk bisa bersikap fleksibel dan kreatif dalam mengajar. Guru harus mampu melayani setiap anak yang memiliki karakter dan kebiasaan yang berbeda-beda, termasuk saat belajar.

Menjadi seorang guru sangatlah berat, bertanggung jawab terhadap keberhasilan anak didik, memiliki kesabaran dan keikhlasan yang tinggi menghadapi berbagai persoalan anak-anak didik, dan itu bukan pekerjaan mudah.

Amy Mistika dan siswanya yang pendiam (foto/twitter)


Seperti sebuah kisah yang dilansir dari Worldofbuzz ini, Kisah tentang bagaimana seorang guru menghadapi tantangan dalam membangun karakter anak didiknya yang dibagikannya melalui akun Twitter. Dia benar-benar peduli dengan kemajuan mental anak didiknya. Kisah ini pun jadi viral di media sosial.

Adalah Amy Mistika, seorang guru di SMK Puchong Utama, Selangor, Malaysia. Dalam unggahannya di akun twitter, Amy menuliskan :

"Aku punya seorang murid berdarah Tiongkok yang sangat pendiam dan pemalu, sangat sulit hanya untuk membuatnya bicara. Namanya Yip Kah Shzen."

Siswa Amy bernama Kah Shzen (foto/twitter)


Amy kemudian menceritakan awal pertemuannya dengan Kah Shzen. Saat pertama kali ia masuk kelas 4Einsten, Amy mengaku tak mengenali Kah Shzen. Siswa tersebut terlalu pendiam, padahal kelasnya sangat berisik.

"Kemudian aku mulai bertanya nama setiap murid”

Saat tiba gilirannya, dia hanya terdiam dan melihat ke meja. Aku menanyakan beberapa pertanyaan, tapi dia tak menjawab," jelas Amy.

Seorang teman Kah Shzen mengatakan pada Amy bahwa ia adalah orang yang pemalu. Amy belakangan tahu nama siswa tersebut dari temannya.

Akhirnya, Amy pun mengambil langkah inisiatif. Ia sengaja menyusun ulang tempat duduk di kelas tersebut.

Amy menempatkan Kah Shzen di depan agar bisa mengawasinya secara langsung. Amy mengaku bahwa selama mengajar Matematika, ia memberi hukuman pada siswa yang tidak membawa buku dan kalkulator.

Ia pun mengecek kelengkapan para siswanya satu per satu. Saat memeriksa Kah Shzen, remaja tersebut masih saja melihat ke mejanya.

Para siswa lainnya mengatakan pada Amy bahwa guru-guru lain sering membiarkannya. Apapun alasannya, Kah Shzen tak akan bicara.

Merasa penasaran, Amy pun mencoba menggali informasi dari wali kelas yang dulu juga mengajar Matematika.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan, biarkan saja dia," ucap si guru.

Amy merasa hal tersebut tidak adil. "Jadi, aku berbicara padanya dengan Bahasa Mandarin, mengira dia tidak paham Bahasa Melayu."

Sebuah fakta miris pun diketahui Amy.

Ternyata Kah Shzen tak memiliki buku dan kalkulator. Amy merasa menyesal telah menghukumnya karena mungkin muridnya tersebut memiliki keterbatasan ekonomi. Di sisi lain, ia merasa tak adil pada siswa yang lain jika memperlakukan Kah Shzen secara khusus.

Akhirnya, Amy pun meminjam buku dan kalkulator untuk dipakai Kah Shzen selama pelajaran.

Suatu hari, Amy dibuat kaget saat memeriksa buku PR sang murid. Ternyata, Kah Shzen menulis semua catatan yang Amy tulis di papan tulis.



Selama ia memiliki buku, remaja tersebut selalu mengumpulkan PR-nya. Amy pun menyimpulkan bahwa sebenarnya Kah Shzen bukan murid pemalas.

Ia hanya tidak punya perlengkapan belajar.

Usaha Amy untuk berkomunikasi dengan Kah Shzen pun akhirnya membuahkan hasil. Anak tersebut suatu ketika mengirimkan pesan WhatsApp pada Amy untuk menanyakan penggarisnya yang hilang.

Yip Kah Shzen mengirimkan pesan untuk Amy (foto/amymistika)


Setiap kali memeriksa tugas Kah Shzen, Amy selalu menulis catatan meminta sang murid tersenyum.

"Sangat sulit melihatnya bicara atau tersenyum," ungkap Amy.

Pesan Amy untuk meminta Kah Shzen tersenyum (foto/amymistika)


Sayangnya, Hingga suatu hari, Amy harus meninggalkan sekolah tersebut. Tapi, sebelum sang guru keluar kelas, Kah Shzen meminta temannya untuk memberikan sebuah pesan pada Amy.

"Aku membuka pesan tersebut dan dia menulis satu kalimat, 'Terima kasih, guru'. Kalimat itu sederhana, tapi sangat berarti untukku."

Saat Amy dan para murid mengambil foto perpisahan di hari terakhirnya, ia meminta Kah Shzen untuk tersenyum.

Meski malu-malu, dalam video yang diunggah, siswa tersebut mencoba memberikan sebuah senyuman. Bahkan, dalam video lain yang diunggahnya, Kah Szhen memberikan kesan dan pesan pada Amy sebagai ucapan perpisahan.







Kisah dan dedikasi Amy untuk membantu Kah Shzen ini membuat banyak netizen tersentuh. Unggahannya bahkan sudah dibagikan lebih dari 48 ribu kali dalam waktu kurang dari 24 jam.

Salut untuk dedikasi kerja keras Amy sebagai guru! Be Inspiring!


comments