Sabtu, 25 November 2017

Mengharukan, Ini 5 Kisah Cinta Paling Legendaris di Indonesia yang Berakhir Tragis

Indonesia menyimpan banyak cerita, yang dianggap benar dan diterima oleh masyarakat, yang akhirnya menjadi sebuah legenda yang terekam hingga saat ini. Termasuk 5 kisah cinta legendaris ini yang berakhir dengan tragis.


VIRALSBOOK.COM – Tidak kalah dari kisah cinta tragis Romeo dan Juliet, Indonesia juga punya beberapa kisah cinta yang melegenda hingga kini dengan kisahnya yang perih dan mendalam. Dalam legenda, kisah cinta mereka dianggap masyarakat setempat sebagai asal muasal terjadinya satu kejadian. Sahabat viralsbook, dari tanah Sumatera hingga Kalimantan, yuk intip 5 kisah mengharukan ini.


Legenda Cinta Roro Jonggrang dan Pangeran Bandung Bondowoso


Legenda cinta antara Bandung Bondowoso dengan Roro Jonggrang dapat diketahui melalui situs Candi Prambanan. Karena dalam legenda, kisah cinta mereka dianggap sebagai asal muasal terbentuknya kompleks candi di Yogyakarta ini. Rara Jonggrang artinya adalah "Dara (gadis) Langsing", dia adalah seorang putri jelita yang mampu menaklukkan hati Pangeran Bandung Bondowoso. Lalu siapakah Roro Jonggrang dan pangeran Bandung Bondowoso?

Legenda ini bermula saat Bandung Bondowoso ingin memperistri Roro Jonggrang, namun Roro Jonggrang menolaknya. Alkisah, hiduplah seorang pangeran yang sakti mandraguna bernama Bandung Bondowoso, sang pangeran adalah putra dari raja besar Damar Maya yang menguasai kerajaan Pengging. Sayang seribu saying, kerajaan Pengging bermusuhan dengan kerajaan Baka yang dipimpin oleh seorang raksasa bernama Prabu Baka. Meski raksasa, Prabu Baka memiliki seorang putri nan cantik jelita bernama Roro Jonggrang.

Dalam sebuah pertempuran antara kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka, sang Prabu Baka pun tewas dibunuh oleh Bandung Bondowoso, hingga kerajaan Baka pun dikuasainya. Datanglah rombongan pangeran Bandung Bondowoso datang ke kerajaan baka, di sanalah ia melihat Roro Jonggrang dan terpikat akan kecantikannya dan ingin menikahinya. Tapi Roro Jonggrang tentu tak sudi menikah dengan orang yang telah membunuh sang ayah, kemudian ia pun membuat tipu muslihat. Untuk menggagalkan maksud ini, Roro Jonggrang meminta Pangeran Bandung Bondowoso memenuhi 2 syarat yang diajukannya, Syarat pertama adalah pembuatan sumur yang dinamakan sumur Jalatunda. Syarat kedua adalah pembangunan seribu candi hanya dalam waktu satu malam. Bandung Bondowoso menyanggupi kedua syarat tersebut.

Mustahil bagi orang biasa untuk memenuhi persyaratan ini, namun bagi Bandung Bondowoso apapun akan dilakukan demi mendapatkan si Roro Jonggrang. Singkat cerita, Untuk memudahkan pekerjaannya, Bandung Bondowoso meminta bantuan jin untuk membangun seribu candi tersebut. Mengetahui hal tersebut, Roro Jonggrang merasa cemas dan dia pun meminta para dayangnya untuk menggagalkan usaha Bandung Bondowoso. Para dayangnya kemudian menabuhkan lumbung sebagai tanda hari sudah pagi, meskipun sebenarnya hari masih malam.

Baca Juga : 10 Tradisi Pernikahan Paling Aneh di Dunia Yang Masih Eksis Sampai Sekarang

Mengira bahwa pagi telah tiba dan sebentar lagi matahari akan terbit, para makhluk halus lari ketakutan bersembunyi masuk kembali ke perut Bumi. Akibatnya, hanya 999 candi yang berhasil dibangun sehingga usaha Bandung Bondowoso gagal. Mengetahui kecurangan yang dilakukan Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso pun marah. Dia mengutuk Roro Jonggrang menjadi pelengkap candi ke seribunya. Dia pun juga mengutuk para dayang yang turut membantunya.


Legenda Cinta Siti Fatimah dan Tan Bun Ann


Legenda ini berasal dari Pulau Kemaro, Palembang. Kisah cinta Tan Bun Ann dan Siti Fatimah konon merupakan asal mula terciptanya Pulau Kemaro ini. Alkisah, ada seorang putri bernama Siti Fatimah. Tan Bun Ann, pangeran asal China, jatuh cinta pada Siti Fatimah dan berniat untuk melamarnya. Orang tua Siti memberikan beberapa persyaratan. Di antaranya Tan harus mempersiapkan sembilan guci berisikan emas. Permintaan tersebut dipenuhi oleh keluarga Tan yang berada di negeri China.

Namun, untuk menghindari ancaman bajak laut dari China ke Palembang, guci berisi emas itu ditutupi dengan asinan dan sayuran oleh keluarganya tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann. Setibanya di Palembang, Tan memeriksa guci tersebut dan sayangnya, ia hanya menemukan sayuran dan asinan yang sudah membusuk. Tan begitu marah dan juga kecewa hingga membuatnya membuang seluruh guci ke Sungai Musi.

Ketika hanya tertinggal satu guci yang tersisa dan guci tersebut pecah di dek kepala kapal, terlihatlah kepingan emas ada di dalamnya. Dia pun baru mengetahui ternyata guci-guci tersebut berisi emas. Tan Bun Ann menyesal dan mengambil keputusan untuk terjun ke Sungai Musi, namun kemudian ia tenggelam. Melihat kejadian tersebut, calon istrinya, Siti Fatimah, ikut terjun ke sungai dan berpesan, “Jika ada tanah yang tumbuh di Sungai Musi ini, maka di situlah kuburan kami.” Terbukti, ada sebuah pulau di tengah Sungai Musi dan sekarang dinamakan Pulau Kemaro.


Legenda Cinta Jayaprana dan Layonsari


Legenda cinta yang berakhir tragis ini berasal dari Pulau Bali. Pada jaman dahulu, ada sebuah kerajaan kecil di daerah utara pulau Bali. Kerajaan itu bernama Kerajaan Wanekeling Kalianget. Di kerajaan itu, hiduplah satu keluarga sederhana, terdiri dari suami istri serta tiga anaknya, dua orang laki-laki dan seorang wanita. Satu waktu, Kerajaan itu terkena sebuah wabah yang menyebabkan banyak warganya meninggal, baik dari kalangan kerajaan maupun rakyat biasa. Keluarga sederhana itu pun ikut terkena wabah, empat anggota keluarganya meninggal dan menyisakan si bungsu, I Nyoman Jayaprana.

Jayaprana, akhirnya dibesarkan oleh Raja Kalianget. Setelah diangkat anak oleh Raja, Jayaprana pun tumbuh di lingkungan kerajaan. Dia mendapatkan pelajaran selayaknya anak kandung Raja. Ia lalu jatuh cinta pada Nyoman Layonsari, seorang gadis penjual bunga anak Jero Bendesa dari Banjar Sekar, dan menikahinya. Namun sayangnya, Raja Kalianget yang telah sekian lama menduda, diam-diam tumbuh benih cinta di hati Raja pada Layonsari. Rasa cintanya pada Layonsari membutakan akal sehat Raja yang sebelumnya dikenal sangat bijaksana. Raja yang telah membesarkan Jayaprana ini pun berniat untuk membunuh Jayaprana demi mendapatkan Layonsari.

Baca Juga : Ini Dia 5 Kakek Macho Sejati Nikahi Gadis Belia, Bikin Geger Jomblo Sedunia

Raja pun memikirkan strategi untuk membunuh Jayaprana agar dapat memperistri Layonsari. Strategi itu disampaikan Raja kepada patih kerajaan bernama Sawung Galing. Hati Sawung Galing sebenarnya menolak untuk melaksanakan tugas tersebut, tapi Raja berkata bahwa bila dia tidak dapat memperistri Layonsari maka dia akan mati karena sedih. Ia membuat rencana mengirim Jayaprana beserta para tentara untuk melawan pasukan bajak laut yang katanya berada di Bali bagian barat laut.

Sahabat viralsbook, singkat cerita, Jayaprana akhirnya tewas terbunuh dengan akal licik sang Raja. Kabar tewasnya Jayaprana pun sampai ke telinga Raja. Dengan terpongoh-pongoh Raja segera menghampiri Layonsari di rumahnya. Raja tua itu menyampaikan berita duka dan sekaligus lamarannya kepada istri Jayaprana.

Layonsari tidak percaya pada kabar meninggalnya sang suami, Raja lalu memperlihatkan keris Jayaprana yang berlumuran darah. Dalam tangisnya Layonsari memaki Raja dan merebut keris milik Jayaprana kemudian menusukkan ke jantungnya sendiri. Layonsari tewas seketika dan dari jasadnya tersebut mengeluarkan aroma wewangian yang menyerbak keseluruh wilayah kerajaan bahkan tercium hingga lokasi jasad Jayaprana berada.


Legenda Cinta Hayam Wuruk – Dyah Pitaloka


Kisah cinta keduanya dianggap sebagai pemicu Perang Bubat dan membuat berkembangnya mitos suku Jawa dilarang menikah dengan suku Sunda. Alkisah, Raja Majapahit ke-4, yaitu Hayam Wuruk jatuh cinta pada Putri Dyah Pitaloka Citraresmi dan ingin menikahinya. Hayam Wuruk jatuh cinta dengan Putri Dyah Pitaloka karena beredar lukisannya di Kerajaan Majapahit.

Selain itu, ada unsur politis juga atas usulan Patih Majapahit saat itu, yakni Gadjah Mada. Dia ingin meluaskan kekuasaan Kerajaan Majapahit dengan cara menikahkan Raja Hayam Wuruk dengan putri penguasa Negeri Sunda. Hayam Wuruk pun mengirim surat pada Maharaja Linggabuana, ayah dari Putri Pitaloka. Surat tersebut diterima dengan baik. Pernikahan akan segera diselenggarakan.

Maharaja Linggabuana datang bersama rombongannya ke Majapahit dan singgah di Pesanggrahan Bubat. Melihat pasukan Sunda, muncul niat lain dari Gadjah Mada yang ingin menaklukan tanah Pasundan. Gadjah Mada lantas menganggap rombongan Maharaja Linggabuana sebagai bentuk penyerahan diri pada Majapahit.

Gadjah Mada juga mendesak Hayam Wuruk menerima Putri Pitaloka bukan sebagai pengantin melainkan tanda penaklukkan tanah Sunda oleh orang Jawa. Peperangan pun akhirnya tidak bisa dielakkan. Maharaja Linggabuana tewas dalam Perang Bubat. Putri Pitaloka akhirnya bunuh diri. Hayam Wuruk meratapi kematian Putri Pitaloka. Kisah tragis ini dimuat dalam Kidung Sundayana.


Legenda Cinta Mashor dan Fatimah


Legenda kisah cinta tragis antara sosok pembantu dan sang majikan ini jadi asal usul mitos keberadaan Nisan Berdarah di sebuah pemakaman di daerah Tungkaran dan menjadi salah satu cerita rakyat paling populer dari Martapura, Kalimantan Selatan.

Dikisahkan, pada zaman dulu tinggallah keluarga saudagar kaya raya di sebuah kediaman besar nan luas. Selain punya lahan pertanian, keluarga ini juga punya lahan perkebunan karet. Saudagar kaya itu punya banyak pekerja dan salah satunya adalah Mashor, pemuda dengan tabiat baik, pekerja keras serta jujur yang disukai oleh anak perempuannya, Fatimah. Karena perbedaan status ekonomi, Fatimah dan Mashor menjalin asmara secara diam-diam. Tapi suatu hari hubungan mereka ketahuan dan Mashor yang tadinya bekerja di kediaman Fatimah, dipindahkan untuk bekerja di perkebunan di seberang sungai.

Baca Juga : Gak Masuk Akal, 5 Pasangan Kekasih Dengan Kisah Pernikahan Paling Unik dan Aneh di Dunia

Tidak lama setelahnya, Fatimah lalu dijodohkan oleh seorang pemuda kaya raya bernama Muhdar tanpa sepengetahuan Mashor. Nahas saat malam pernikahan, terjadi kebakaran besar di rumah Fatimah. Muhdar yang ketakutan lalu meninggalkan Fatimah seorang diri di dalam rumah. Kobaran api pun nampak hingga ke gubuk kecil Mashor. Tanpa pikir panjang dia berenang menyebrangi sungai dan lari menembus kobaran api mencari Fatimah.

Sahabat viralsbook, dengan badan berlumuran darah dan penuh luka bakar, Mashor berhasil membawa Fatimah yang sudah tidak sadarkan diri keluar rumah. Pada waktu yang bersamaan, Muhdar muncul dan langsung merebut Fatimah dari tangan Mashor. Saat itulah Mashor menyadari kalau Fatimah sudah menikah dengan orang lain. Sedih bukan kepalang, Mashor jatuh pingsan. Dia lalu dibawa kembali ke pondok lusuhnya dan dirawat oleh tabib suruhan orang tua Fatimah.

Sempat tersadar dan berkali-kali menyebut nama Fatimah, Mashor lalu menghembuskan napas terakhirnya. Dia lalu dikubur di sebuah pemakaman kecil, di dekat gubuk kecilnya. Berbulan-bulan kemudian, Fatimah baru tahu bahwa Mashor sudah meninggal. Bersamaan dengan itu Fatimah juga akhirnya tahu kalau Mashor lah yang menyelamatkannya dari kebakaran. Selama ini keluarga Fatimah sengaja merahasiakan fakta ini agar Fatimah tidak terguncang.

Dengan hati yang dipenuhi duka, dia mendatangi kuburan Mashor. Di tengah gerimis, Fatimah merasa melihat sosok Mashor berdiri di hadapannya sambil tersenyum dan merentangkan tangan. Rindu, dia pun berlari ke arah sosok itu dan memeluknya. Nahas, Fatimah terjatuh dan menimpa pagar-pagar kayu tajam yang mengelilingi kuburan Mashor. Fatimah lalu menemui ajalnya dalam keadaan tersenyum. Darah Fatimah mengalir di atas nisan Mashor yang kemudian menjali asal muasal mitos Nisan Berdarah.

***

Itulah 5 kisah cinta yang berakhir tragis dan melegenda di sanubari masyarakat Indonesia. Benar dan tidaknya kisah-kisah diatas, itu terserah pada sahabat viralsbook yang budiman. Yang pasti kisah ini dianggap benar dan diterima oleh masyarakat setempat, dan yang akhirnya menjadi sebuah legenda yang terekam hingga saat ini. (www.viralsbook.com)

comments