Minggu, 26 November 2017

Gila! Mereka Sempat Mendokumentasikan Detik-Detik Terakhir Kematiannya Sendiri

Bicara soal kehidupan, pasti akan bicara pula soal kematian. Semua yang hidup sudah pasti akan mati. Kapan dan bagaimana kita mati tidak ada yang bisa mengetahuinya. Namun, bagaimana jika seseorang sempat mendokumentasikan detik-detik terakhir kematiannya ? Percaya gak?


VIRALSBOOK.COM - Kematian menjadi salah satu hal yang mutlak akan dialami oleh semua makhluk hidup. Tak ada satupun makhluk hidup di muka bumi ini yang bisa lolos dari kematian. Namun, ada sebagian orang yang entah sengaja atau tidak seakan mereka tahu hidupnya akan berakhir, sehingga detik-detik kematiannya dapat didokumentasikan melalui rekaman video atau beberapa catatan harian mereka. Sahabat viralsbook, percaya atau tidak, mereka inilah yang sempat mendokumentasikan kematian mereka sendiri.


Edwin Katskee


Kokain adalah anestesi lokal pertama yang banyak digunakan oleh para dokter. Dibandingkan dengan anestesi lainnya yang kurang berkhasiat dan kadang-kadang menimbulkan efek samping yang cukup parah bagi pasien, berbeda dengan kokain yang cukup berkhasiat namun para dokter masih belum bisa menemukan efek samping dari penggunaan kokain sebagai anestesi. Pada saat itu, masih belum ada penetapan dosis yang disetujui, sehingga penggunaan kokain ke pasien hanya dalam dosis yang sangat kecil.

Pada tahun 1936, Edwin Katskee memutuskan untuk menyuntik dirinya sendiri dengan kokain untuk melihat efek samping yang dihasilkan kokain dalam setiap dosis yang digunakan dan menulis berbagai efek yang dirasakan di buku catatan miliknya. Secara tidak sengaja ia mulai menyuntikkan kokain dalam dosis yang tinggi. Sahabat viralsbook, dalam buku catatannya, ia menulis efek pertama yang dirasakan adalah mata mulai melebar dan memiliki penglihatan yang tajam, kemudian ia menulis bahwa ia masih dapat berdiri dan pemulihan parsial, hasilnya akan dicatat dalam buku Rx miliki universitas dan perguruan tinggi (mulai tidak jelas tulisannya).

Disambung dengan tulisan bahwa ia tidak akan mengulangi percobaan ini lagi, setelah itu, ia menulis "kelumpuhan" pada bukunya dan itu menjadi kata terakhir yang yang ditulisnya. Diasumsikan bahwa Katskee meninggal setelah menulis kata itu. Sayangnya, catatan milik Edwin Katskee tidak terlalu berguna karena dia tidak menambahkan waktu kronologisnya serta tulisannya tidak berurutan sehingga para ilmuwan harus menebak-nebak urutan tulisannya, tulisannya juga tidak terbaca dengan jelas.


Ricardo Lopez

Baca Juga : Hingga Kini Belum Terkuak dan Diketahui Rimbanya, Inilah 5 Kasus Orang Hilang Paling Misterius


Pada tanggal 12 September 1996, Ricardo Lopez, seorang pria berumur 21 tahun memutuskan untuk bunuh diri dengan cara menembak dirinya sendiri melalui mulutnya. Adegan bunuh dirinya berawal dari obsesinya yang berlebihan terhadap penyanyi idolanya, Bjork. Karena obsesinya yang berlebihan itu, ia merasa cemburu ketika mengetahui bahwa Bjork mempunyai seorang pacar.

Ricardo berencana untuk membunuh Bjork, ia membuat bom yang dirakit sendiri berisi asam sulfat dan akan mengirim bom itu ke rumah Bjork di London. Setelah bom rakitannya selesai dibuat, Ricardo sendiri yang mengantar bom itu ke kantor pos dengan membawa sebuah pistol bersamanya sehingga ia bisa dengan cepat membunuh dirinya sendiri jika tertangkap. Namun sahabat viralsbook, ia tidak dicurigai dan berhasil mengirim paket bom rakitannya.

Namun karena masih kesal dengan Bjork, ia pulang kerumahnya dan membuat video terakhirnya. Ricardo menanggalkan pakaiannya, mewarnai wajahnya dan duduk dikursi dimana dia menembak dirinya sendiri melalui mulutnya, sementara terdengar alunan salah satu lagu Bjork yang diputar bersama video bunuh diri tersebut.

Mayatnya ditemukan 4 hari kemudian, setelah para tetangga mulai mencium bau busuk dari dalam kamar Ricardo. Petugas dari Departemen Kepolisisan Hollywood menyelidiki semua video milik Ricardo, termasuk video terakhir miliknya yang sempat mengatakan bahwa ia mengirim sebuah bom ke rumah Bjork. Polisi Hollywood kemudian menyampaikan pesan tersebut kepada polisi di Inggris, untungnya bom itu ditemukan sebelum dikirim ke rumah Bjork.


Daniel Alcides Carrion


Mempunyai kisah yang sama seperti Edwin Katskee, Daniel Alcides Carrion bereskperimen pada dirinya sendiri dan menyimpan catatan yang mendokumentasikan kematiannya. Daniel adalah seorang mahasiswa kedokteran di Peru. Pada tahun 1873, 3 tahun sebelum ia pergi untuk menjalani sekolah dokternya, ia sempat menyaksikan kematian ribuan orang di kota Callao dan La Oroya karena suatu penyakit mematikan. Para dokter juga belum pernah melihat gejala penyakit ini sebelumnya. Ketika Daniel sudah masuk sekolah kedokterannya, Peru mencatat bahwa peningkatan penyakit verruga peruana sudah mulai mewabah ke seluruh penjuru daerah.

Daniel mulai merasa tertarik untuk menyelediki penyakit ini dan menelitinya secara ekstensif. Bagian dari penelitiannya melibatkan penggunaan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan untuk melihat bagaimana penyakit tersebut mempengaruhi tubuh manusia. Pada tanggal 27 Agustus 1885, Daniel menyuruh teman-temannya untuk menyebarkan penyakit itu ke dalam tubuhnya karena ia mulai lemas dan tidak dapat melakukannya sendiri. Ia kemudian mencatat gejala-gejala yang dialami pada tanggal 17 September 1885. Seminggu kemudian, ia mulai mengalami penurunan aktivitas tubuh sehingga tidak mampu untuk melanjutkan catatannya, akhirnya seorang temannya membantu menulis untuknya sampai ia meninggal pada tanggal 5 Oktober 1885.

Catatan milik Daniel dianggap sangat berguna dan memberi wawasan baru kepada para dokter di Peru tentang cara kerja penyakit verruga peruana pada tubuh manusia. Catatan itu juga membuktian bahwa wabah yang sebelumnya disaksikan oleh Daniel sebelum ia pergi melanjutkan sekolah kodektaran adalah penyakit yang sama yang digunakan untuk eksperimen dirinya. Sahabat viralsbook, untuk mengenang jasanya, Peru menganggap Daniel adalah pahlawan dalam bidang kedokteran dan menamakan universitas kedokteran dengan namanya. Verruga peruana juga diganti nama menjadi penyakit Carrion (nama belakang Daniel) untuk menghormati jasa Daniel, penyakit ini juga sering disebut demam Oroya.


Timothy Leary


Baca Juga : Ngeri! Ketika Anjing Kesayangan Berubah Jadi Monster Pembunuh Tuannya

Timothy Leary adalah seorang psikologi asal Amerika yang terkenal, ia juga seorang aktor komedian dan penulis yang kondang. Dia menjalani kehidupannya yang cukup berada, ia juga sempat bertugas di Angkatan Darat As sebelum memasuki dunia hiburan. Timothy juga sempat mencalonkan diri sebagai gubernur dan akhirnya dipenjara karena terjerat kasus narkoba. Ia sempat melarikan diri ke Eropa dan Afrika namun sempat ditangkap kembali untuk dijebloskan ke penjara lagi. Pada tahun 1963, Timothy sempat menjadi pengajar di Harvard namun ia dipecat karena bereksperimen dengan obat yang dapat mengendalikan pikiran para mahasiswanya.

Di sisi lain, Timothy merupakan seorang komedian dan sering membuat lelucon tentang kematiannya setelah ia didiagnosis menderita kanker prostat. Sahabat viralsbook, Ia membuat situs web untuk mengupdate apapun yang terjadi terkait kesehatannya. Dalam masa-masa sulitnya tersebut ia juga sempat merekam dan mengambil gambar dirinya. Di tahun 1996, ia sengaja memfilmkan dirinya agar dapat disiarkan suatu saat nanti ketika ia sudah mati. Kata-kata terakhirnya adalah "mengapa tidak?"


Nara Almeida


Nara Almeida adalah seorang blogger asal Brasil yang berusia 24 tahun. Ia meninggal pada Mei 2018 karena mengidap kanker perut yang didiagnosis setahun sebelumnya. Ketika mengetahui hal itu, ia mulai memposting foto-foto perawatannya kepada 4,5 juta pengikutnya di media sosial. Foto-foto yang dipostingnya sering menyertakan keterangan tentang apa yang dirasakan Nara, seperti insomnia di malam hari sampai rasa sakit serta trauma yang dialaminya.

Sahabat viralsbook, sebulan sebelum kematiannya, ia memposting foto dirinya di ranjang rumah sakit dengan posisi tidur sambil mengangkat tangan kirinya ke atas. Tepat sebelum menjalani perawatan imunoterapi, ia memberi caption "Saya percaya bahwa pada akhirnya, semuanya akan berhasil dan saya akan keluar dengan kekuatan penuh dan siap membantu orang lain. Namun hal itu tidak pernah terjadi.


Martin Manley


Pada tanggal 15 Agustus 2013, jurnalis olahraga Martin Manley sempat menelepon 911 untuk melaporkan kejadian bunuh diri di rumahnya. Setelah menutup telepon, ia langsung bunuh diri. Kejadian ini tentunya mengejutkan banyak orang karena Martin sempat membuat pernyataan penolakan terhadap percobaan untuk bunuh diri. Ternyata sahabat viralsbook, Martin sudah merencanakan dengan matang bunuh dirinya selama bertahun-tahun.

Pada hari kematiannya, ia menerbitkan sebuah blog yang mengungkapkan alasan dia bunuh diri dan pendapat pribadinya. Martin menulis bahwa ia bunuh diri karena ingin mengendalikan kapan, dimana dan bagaiman ia akan meninggal. Dia juga menjelaskan mengapa ia memilih tanggal, lokasi dan pistol yang dia gunakan. Hari saat dia menembak dirinya adalah hari ulang tahunnya yang ke 60 tahun. Martin telah menulis untuk blog selama bertahun-tahun dan telah membayar hosting blog tersebut sebelum dia menembak dirinya sendiri.

Dari kisahnya tersebut, dapat dipastikan bahwa Martin adalah seorang perfeksionis yang ingin mengendalikan apapun yang terjadi pada dirinya. Setelah kematiannya, Martin ternyata sempat membuat peraturan yang rumit untuk penguburannya. Sebelum bunuh diri, ia mengirim beberapa perhiasan dan surat kepada beberapa sanak keluarganya untuk memberitahu tentang kematiannya, keluarganya dapat menerima surat setelah ia meninggal. Dia juga meninggalkan informasi spesik tentang bagaimana ia harus dikubur dan telah membayar biaya kematiannya, termasuk proses kremasinya.

Baca Juga : Mengerikan! 7 Aksi Sulap Gagal Total Yang Berakhir Dengan Kematian Tragis

Pahinggar Indrawan


Pria yang akrab disapa Indra ini sempat menggegerkan dunia facebook di Indonesia. Ia sempat merekam kejadian bunuh dirinya di Facebook dan sempat menjadi viral pada tanggal 17 Maret 2017 silam. Diduga karena hubungan rumah tangga yang berantakan, istrinya meninggalkan dirinya bersama anak-anaknya.

Ia pun sempat bimbang dalam menjalani hidupnya, seperti yang dikatakannya beberapa hari sebelum ia melakukan bunuh diri. Setelah melakukan live bunuh diri di Facebook, banyak netizen yang berkomentar jika video itu adalah omongan kosong belaka dan merupakan penipuan karena jarak kaki dan lantai yang tidak terlihat. Namun setelah beberapa jam kemudian, kabar duka mulai timbul di media sosial terkait bunuh diri yang dilakukan Indra.

***

Sahabat viralsbook, itulah beberapa orang yang sempat mendokumentasikan kematiannya, entah itu melalui foto, video maupun catatan yang ditinggalkan si pelaku. Ada juga yang bermanfaat untuk pengembangan medis, ada yang karena sakit berat dan ada juga yang sengaja mengakhiri hidupnya karena faktor kehidupan. (www.ayoketawa.com)

comments