Destinasi wisata tidak harus selalu menyuguhkan keindahan alam atau pun hiburan. Terkadang, destinasi juga dipadati dan dikunjungi wisatawan karena cerita mistis yang berada di baliknya.

Daftar Isi

    VIRALSBOOK - Hampir semua destinasi misteri populer punya pola yang sama. Di balik cerita horor atau julukan tempat paling angker, selalu ada catatan peristiwa kelam di masa lalu. Entah itu bekas lokasi pertempuran besar, sisa tempat penampungan wabah penyakit, sampai peninggalan ritual kepercayaan masyarakat zaman dulu.

    Orang-orang yang mendatangi tempat seperti ini umumnya punya alasan di luar sekadar memburu rasa takut. Banyak traveler dan penikmat sejarah justru penasaran dengan jejak tragedi serta cara warga lokal merawat ingatan masa lalu mereka.

    Dari sekian banyak kawasan di bumi, lima lokasi inilah yang rekam jejak masa lalunya bersama mitos warga lokal paling bertahan lama diperbincangkan.

    Kastil Bran, Rumania

    Kastil Bran (Rumania)
    Julukan "Kastil Dracula" pada Kastil Bran di Rumania murni lahir dari novel fiksi. Bram Stoker menerbitkan buku itu tahun 1897. Penulis asal Irlandia tersebut memakai sosok Vlad III—atau Vlad the Impaler (Vlad ÈšepeÈ™)—sebagai cetak biru karakter vampirnya. Nama Dracula sendiri menempel karena ayah Vlad bergabung di Order of the Dragon (Dracul).

    Hubungan Vlad III dengan benteng ini amat minim. Arsip sejarah menunjukkan ia cuma pernah melintas, atau paling jauh ditahan sebentar di sana. Kastil ini berdiri abad ke-14 atas prakarsa Ksatria Teutonik dan warga Saxon Brasov. Fungsi aslinya murni benteng pertahanan. Mereka membentengi tebing Pegunungan Karpatia ini untuk menyetop serbuan Kesultanan Utsmaniyah ke Transilvania.

    Visual Kastil Bran memang mendukung imajinasi orang. Dinding batunya tebal. Lorongnya sempit, menaranya menjulang, dan kabut Karpatia sering turun membungkus area sekitar. Fungsi militernya sudah lama mati. Kini pemerintah Rumania membukanya sebagai museum publik yang menyimpan koleksi furnitur Ratu Marie, sekaligus menjadi lokasi wisata paling ramai di Eropa Timur.

    Kuil Mae Nak, Thailand

    Kuil Mae Nak, Thailand
    Kompleks Wat Mahabut di Bangkok punya satu area khusus untuk memuja arwah Mae Nak (Ibu Nak). Tempat ini berawal dari cerita masyarakat Siam pada pertengahan abad ke-19. Kisah itu muncul saat Thailand masih di bawah pemerintahan Raja Rama IV.

    Konon, Tragedi Mae Nak berawal saat Mak ditinggal tugas bertempur. Istrinya, Nak, sedang hamil tua. Nak melahirkan tanpa didampingi suami dan tewas akibat komplikasi persalinan beserta bayinya. Warga setempat percaya rasa sayang pada suaminya membuat arwah Nak enggan pergi dari rumah mereka di tepi Kanal Phra Khanong.

    Mak pun kembali pulang tanpa mengetahui kalau istrinya itu hantu. Pasutri ini kembali menjalani kehidupan rumah tangga bersama seakan tidak terjadi apa-apa. Warga desa sempat mencoba memberi tahu Mak bahwa Nak sudah meninggal. Namun usaha itu malah berujung teror menakutkan bagi warga. Teror tersebut akhirnya usai sewaktu seorang pemuka agama Budha turun tangan menggelar ritual penghormatan dan menyempurnakan jasad Nak.

    Kini, kuil tersebut menjadi simbol pengabdian dan cinta abadi. Peziarah yang berkunjung umumnya membawa sesaji berupa gaun tradisional Thailand, mainan anak-anak, kosmetik, serta botol susu. Tempat ini mencerminkan bagaimana kebudayaan Thailand memadukan ajaran Buddhisme dengan kepercayaan lokal terhadap roh leluhur.

    Catacombs of Paris, Prancis

    Catacombs of Paris, Prancis
    Di balik megahnya kota Paris, terdapat lorong-lorong bekas galian batu kapur yang membentang melampaui angka 300 kilometer. Di salah satu sudutnya ada Catacombs of Paris, yang berjuluk l'Empire de la Mort. Lebih dari enam juta jasad manusia dipindahkan dan disemayamkan di sana.

    Pada akhir abad ke-18, Paris dilanda masalah sanitasi serius. Tempat pemakaman umum—salah satunya Cimetière des Innocents—sudah melampaui batas penampungan. Baunya membahayakan kesehatan publik dan berisiko menyebarkan wabah. Tahun 1785, pemerintah kota memutuskan mengangkut semua kerangka manusia tersebut ke bawah tanah, memanfaatkan bekas tambang batu kapur.

    Pengangkutan kerangka ini memakan waktu bertahun-tahun. Pekerja membawa tumpukan tulang tersebut pakai kereta kuda saat malam tiba. Pada awal abad ke-19, inspektur pertambangan Louis-Étienne Héricart de Thury menata ulang susunan tulang-tulang tersebut menjadi susunan dinding yang rapi dan artistik, lengkap dengan monumen dan prasasti berbahasa Latin serta Prancis yang berisi perenungan tentang moralitas manusia.

    Menelusuri lorong dingin Catacombs menawarkan pengalaman sejarah yang kontemplatif, mengingatkan para pengunjung pada kutipan terkenal yang terpampang di pintu masuknya: "Arrête! C'est ici l'empire de la Mort" (Berhentilah! Di sinilah Kerajaan Kematian).

    Kota York, Inggris

    Kota York, Inggris
    Catatan sejarah kelam Kota York di utara Inggris memang sangat padat mengikut penilaian para sejarawan. Bermula sebagai Eboracum yang dibina Rom pada 71 Masihi, kota ini kemudiannya dilanda pencerobohan Viking pada abad ke-9 dengan nama Jórvík. Konflik tidak berhenti di situ kerana perang saudara dan eksekusi politik era pertengahan turut mewarnai sejarahnya.

    Setiap sudut dan di setiap jengkal tanah Kota York penuh dengan memori pertempuran masa lalu. Pembantaian berdarah di masa lalu meninggalkan jejaknya di situs-situs tua York, mulai dari menara Clifford’s Tower hingga lorong The Shambles yang dibangun sejak abad ke-14. Belum lagi kisah eksekusi mati terkenal di sana, seperti hukuman bagi Margaret Clitherow pada 1586 dan Thomas Percy, Earl of Northumberland ketujuh, pada 1572.

    Jejak sejarah kelam itu kemudian melahirkan tradisi Ghost Walk. Pemandu sejarah lokal mengajak orang berjalan kaki menyusuri lorong batu tua di malam hari. Karena arsitektur abad pertengahannya masih utuh, York jadi tempat tujuan utama pencinta dan penggemar kisah sejarah Inggris.

    Taman Nasional Alas Purwo, Indonesia

    Taman Nasional Alas Purwo, Indonesia
    Taman Nasional Alas Purwo membentang di Kabupaten Banyuwangi, wilayah paling ujung timur Pulau Jawa. Ekosistem di dalamnya mencakup hutan hujan tropis serta padang sabana yang terjaga kealamiannya. Kawasan ini bukan sekadar memiliki vegetasi lebat atau keindahan Garis Pantai Grajagan. Bagi masyarakat Jawa, nama Alas Purwo menduduki posisi khusus dalam tatanan kosmologi.

    Etimologi kata "Purwo" berasal dari bahasa Jawa Kuno. Maknanya merujuk pada "awal" atau "permulaan". Tradisi lisan warga lokal meyakini kawasan ini sebagai daratan tertua di Pulau Jawa, sekaligus titik pusat spiritualitas alam.

    Sisi historis kawasan ini ditandai oleh keberadaan gua-gua batu kapur di dalam hutan. Gua Istana dan Gua Padepokan merupakan contoh lokasi yang sejak lama difungsikan untuk meditasi, kontemplasi diri, serta penyucian spiritual. Peziarah yang datang berasal dari penganut Kejawen maupun warga dari pelbagai daerah.

    Suasana mistis di Alas Purwo dipengaruhi oleh kerapatan tajuk pohon bambu dan sawo kecik. Rindangnya pepohonan tersebut menghalangi masuknya sinar matahari ke dasar hutan. Menanggapi kondisi ini, masyarakat setempat menerapkan norma adat yang ketat bagi pengunjung: menjaga tutur kata, dilarang merusak vegetasi, dan menghormati lingkungan sekitar. Kepatuhan terhadap aturan adat ini secara tidak langsung menjaga keutuhan ekosistem Alas Purwo hingga saat ini.

    ***

    Daya tarik dari destinasi-destinasi di atas tidak terletak pada kepastian supranaturalnya, melainkan pada kekayaan sejarah, arsitektur kuno, dan kisah manusia yang terikat padanya. Tempat-tempat ini membuktikan bahwa rasa ingin tahu manusia terhadap hal-hal yang tidak diketahui sering kali menjadi pendorong utama untuk mempelajari sejarah peradaban secara lebih mendalam. (vb)