Senin, 01 Maret 2021

Kasus Misterius Scott Falater, Sambil Tidur Dia Membunuh Istrinya Sendiri

Sebuah kisah nyata yang misterius tentang seorang pengidap gangguan tidur somnabulisme atau sleepwalking yang menikam istrinya secara keji sebanyak 44 tusukan saat berjalan sambil tidur. Seperti apa kisahnya?


VIRALSBOOK.COM – Pikiran, jiwa dan alam bawah sadar setiap manusia merupakan sebuah misteri terbesar yang akan sulit diselami oleh orang lain. Banyak sekali hal-hal yang tidak kita pahami tentangnya, diantaranya tentang sebuah mimpi. Setiap bermimpi dalam tidur, pikiran manusia masuk ke alam bawah sadar yang biasanya bersembunyi dibalik permukaan kehidupannya yang nyata. Tetapi bagaimana ketika misteri mimpi ini muncul ke permukaan? Apa yang terjadi ketika alam tak dikenal dari jurang pikiran manusia yang tertidur menjadi kenyataan?

Dalam bentuknya yang paling ekstrim, tampaknya itu bisa berakhir dengan beberapa konsekuensi yang mengerikan, dan disini kita akan melihat saat seorang pria membunuh istrinya secara sadis dalam keadaan sedang berjalan dalam tidur. Sahabat viralsbook, Inilah kisah nyata yang mengerikan tentang Scott Falater, seorang pria yang tinggal di kota Phoenix, negara bagian Arizona, Amerika Serikat.

Kehidupan rumah tangga Scott Falater berjalan harmonis seperti layaknya kehidupan ideal seorang pria normal. Istrinya bernama Yarmila. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang anak. Scott Falater sendiri bekerja sebagai teknisi listrik di perusahaan Motorola, produsen perangkat telekomunikasi asal Amerika Serikat. Tak ada satu pun yang menyangka jika kehidupan harmonis keluarga ini bakal hancur seketika lewat peristiwa akibat mimpi yang begitu tragis.

Baca Juga : Menguak Misteri Lukisan 'The Crying Boy' Yang Diklaim Sebagai Lukisan Kutukan

Hari itu, tanggal 16 Januari 1997, seperti biasanya Scott pergi bekerja sebagai teknisi listrik di Motorola. Setelah seharian bekerja, Scott pulang ke rumah dan malamnya dia begitu menikmati makan malam bersama keluarga tercinta, ditemani istrinya, Yarmila dan kedua anaknya.

Sekitar pukul 9 malam, Scott menuju halaman belakang rumahnya, mencoba memperbaiki filter di kolam renang. Setelah selesai dengan tugasnya, ia pun kembali masuk ke rumah dan melihat kalau Yarmilla sudah tertidur pulas di sofa, Scott pun memberinya ciuman selamat malam dan pergi tidur sendiri. Semuanya berjalan normal seperti biasanya.

Beberapa jam kemudian, Scott terbangun dari tidurnya. Anehnya, dia merasa tidak lagi berada di atas ranjang, melainkan telah berdiri di puncak anak tangga dengan piyamanya. Hal ini belum cukup membuat Scott terkejut, sebab dia makin terperanjat saat melihat ada polisi yang menodongkan pistol ke arahnya dan melihat istrinya Yarmila dengan kondisi sudah tak bernyawa lagi.

Kondisi Yarmilla begitu mengenaskan saat ditemukan polisi yang datang setelah tetangga Scott menelepon dan melaporkan kalau mereka mendengar teriakan wanita dari dalam rumah Scott. Saat pihak kepolisian menyelidiki tempat itu, tubuh Yarmila ditemukan telah berlumuran darah dan terombang-ambing di kolam renang. Terdapat 44 luka tusukan di tubuhnya, terlihat seolah-olah baru saja diserang oleh seekor ikan hiu di sekitar kolam. Benar-benar mengerikan.

Sahabat viralsbook, Salah satu tetangga Scott yang diwawancarasi pihak kepolisian saat penyelidikan kasus mengaku kalau ia sempat melihat Scott menyeret tubuh istrinya Yarmilla yang sudah bersimbah darah dan menceburkannya ke kolam renang serta memegang kepalanya di bawah air.

Setelah itu menurut pengakuan saksi, Scott terlihat berjalan ke rumahnya, mematikan dan menyalakan lampu serta meremas-remas tangannya. Pisau yang digunakan untuk pembunuh dan telah bersimbah darah disimpan di kantong sampah dan disembunyikan di dalam mobil keluarga. Sementara anak-anak Scott yang berusia 12 dan 15 tahun masih tertidur lelap di dalam rumah.

Berdasarkan kesaksian inilah, polisi dengan mudahnya menyimpulkan bahwa Yarmilla tewas akibat dibunuh oleh suaminya sendiri, Scott Falater. Maka, polisi pun menangkap dan membawa Scott ke kantor polisi.

***

Keanehan mulai muncul saat dimulainya penyelidikan. Walaupun jelas sekali bahwa Scott Falater yang telah membunuh istrinya secara sadis, tetapi di hadapan polisi, Scott tampak bingung tentang apa yang telah terjadi.

Scott menyangkal kalau ia sama sekali tidak tahu kenapa istrinya tewas dengan begitu sadis. Scott hanya mengingat kalau dirinya hanya mencium istrinya saat akan beranjak tidur malam sebelum dirinya terbangun lagi sudah berada di hadapan polisi. Sepertinya dia benar-benar bingung dengan apa yang telah terjadi.

Pengakuan Scott saat itu, bahwa dia hanya merasakan benar-benar kelelahan dan jatuh di tempat tidur. Hal berikutnya yang ia ingat adalah mendengar orang berteriak dan anjing menggonggong serta teriakan “Turun” dan “diam”. Menurut Scott, semuanya tidak terlihat nyata dan sangat membingungkan dan ia sadar nanti setelah tiba di Kantor Polisi.

Scott pun akhirnya mulai berpikir kalau yang melakukan pembunuhan sadis terhadap Yarmilla mungkin memang dirinya, tetapi dalam kondisi sedang berjalan sambil tidur. Untuk memperkuat asumsi ini, Scott menjelaskan kalau dirinya memang sering berjalan sambil tidur.

Klaim Scott tersebut turut didukung oleh keluarga dan orang-orang terdekatnya yang membenarkan kalau Scott memang memiliki riwayat berjalan sambil tidur. Scott bahkan dalam tidurnya bisa bertingkah kasar dalam kondisi terlelap. Tetapi saat terbangun, Scott sama sekali tidak ingat dengan apa yang baru saja ia lakukan saat tidur. Bahkan rekan satu sel Scott selama penahanannya turut memberikan kesaksian bahwa ia telah menyaksikan Scott Falater berjalan sambil tidur di dalam sel.

Pada awalnya polisi tidak menerima penjelasan Scott dan menganggap kalau ia hanya sedang mencoba membela diri saja. Namun sahabat viralsbook, semakin lama mereka melakukan investigasi atas kasus Scott, polisi merasa semakin bingung.


Terlebih saat keluarga, teman dekat, dan tetangganya menggambarkan bahwa keluarga Scott Falater adalah keluarga kecil yang bahagia dan tidak pernah mendengar masalah atau pertengkaran besar serta sejarah kekerasan yang pernah terjadi di kehidupan rumah tangga Scott, makin menambah kebingungan pihak kepolisian yang menyelidiki kasus misterius Scott Falater.

Memang, polisi sama sekali tidak dapat menemukan motif yang masuk akal perihal mengapa Scott tega menghabisi istrinya sendiri secara sadis. Tetapi alasan lain pihak kepolisian mengapa Scott diduga melakukan pembunuhan ini secara sadar adalah ditemukannya barang bukti berupa pisau dengan bercak darah di lokasi pembunuhan namun tersembunyi di dalam mobil. Sebuah tanda jika Scott sadar akan tindakannya dan berusaha menutup-nutupinya.

***

Kasus misterius pembunuhan berdarah yang melibatkan Scott akhirnya sampai ke pengadilan. Selama persidangan, Scott Falater terus bersikeras dan menegaskan berkali-kali kalau dirinya tidak bersalah. Scott sangat yakin bahwa ia tidak mengingat apa yang telah dilakukannya saat berjalan sambil tidur.

Pengacara Scott mengungkapkan dalam fakta persidangan bahwa kliennya tidak memiliki motif untuk menghabisi istrinya sendiri, dengan alasan Scott berasal dari keluarga yang bahagia tanpa latar sejarah kekerasan atau pertengkaran dengan istrinya. Keluarganya pun turut bersaksi bahwa Scott memiliki riwayat kelainan dalam tidur, beberapa di antaranya agak kasar dan tidak pernah dia ingat saat bangun tidur.

Walaupun ada pembelaan untuk Scott, tuntutan Jaksa atas kasus ini meminta agar Scott dihukum mati. Menurutnya Scott tidak mungkin melakukan pembunuhan dalam kondisi masih terlelap. Untuk membuktikan klaimnya tersebut, jaksa menjelaskan bahwa pisau dengan bercak darah tidak ditemukan di lokasi pembunuhan, namun tersembunyi di dalam mobil.

Jaksa juga dalam tuntutannya mengungkapkan bahwa jika Scott memang berjalan sambil tidur saat melakukan pembunuhan, maka seharusnya secara alamiah Scott langsung terbangun ketika istrinya berteriak saat ditikam Scott berkali-kali. Alasannya logis, Tetangga Scott saja bisa mendengar teriakan istri Scott yang kemudian meminta pertolongan polisi, kenapa Scott tidak?

Sejumlah pakar Spesialis Tidur dihadirkan oleh tim pembela di persidangan untuk dimintai pendapatnya mengenai apakah mungkin Scott melakukan pembunuhan dalam kondisi masih tidur terlelap. Tim ahli di Bidang Tidur ini pun menjelaskan bahwa secara teoritis hal ini mungkin bisa saja terjadi, melakukan kejahatan dalam keadaan tidur sambil berjalan.

Para pakar ini juga menginformasikan kalau Scott membunuh istrinya dalam kondisi tidak sadar karena mungkin menganggap istrinya sebagai sesuatu yang menakutkan di dalam mimpinya karena beberapa sebab. Penyebabnya bisa saja stres, terlalu lelah bekerja, dan kurang tidur selama berhari-hari.

Baca Juga : Kisah Misteri Kursi Kematian Thomas Busby, Siapapun Yang Duduk di Sana Akan Terbunuh

Setelah menerima semua informasi, hakim melalui pertimbangannya memutuskan kalau Scott memang bersalah melakukan pembunuhan terhadap istrinya. Namun karena Scott dianggap melakukan pembunuhan dengan kondisi tidak sadarkan diri, hakim tidak menjatuhkan hukuman mati kepada Scott sesuai tuntutan Jaksa. Sebagai gantinya, Scott hanya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.


Scott pun pada akhirnya menjalani hukumannya sesuai vonis hakim walaupun ia tetap pada pendiriannya. Scott menyadari kalau dialah yang telah membunuh istrinya, namun selalu menegaskan kalau ia sama sekali tidak ingat dengan tindakan yang ia lakukan di malam naas tersebut yang menyebabkan istrinya tewas secara keji. Pengakuan Scott, selama dalam tahanan ia tetap teringat dengan mendiang istrinya hingga sekarang, sehingga Scott selalu merasa tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

Untuk menebus kesalahannya, Scott pun berujar kalau dia akan menghabiskan sisa hidupnya sebagai tahanan saja. Kedua putra Scott, Michael Falater dan adiknya selalu rutin menjenguk ayahnya di penjara dan selalu ingin tetap menjalin hubungan dengannya.

***

Sahabat viralsbook, kisah misterius pembunuhan yang dilakukan pelaku diluar kesadarannya ternyata tidak hanya menimpa Scott Falater. Bahkan sebelum kasus Scott terjadi, pernah ada kasus pembunuhan dimana pelakunya berada dalam kondisi berjalan sambil tidur.

Pada tahun 1987, Kenneth Parks ditahan atas tuduhan melakukan pembunuhan, walaupun Parks membela diri dengan menyatakan kalau ia sama sekali tidak sadar saat melakukannya.

Pemeriksaan pada gelombang otak Parks pun dilakukan. Dan hasilnya memang menunjukkan adanya hal yang tidak wajar pada otak Parks saat ia sedang tidur. Menurut pengakuan Parks, tepat sebelum pembunuhan terjadi kondisinya saat itu sedang berada dalam kondisi stress akibat masalah keuangan dan pernikahan. (vb)


Disadur dari beberapa sumber resmi :
mysteriousuniverse.org: The Bizarre Case of the Sleepwalking Killer / abc15.com : 'Sleepwalking' killer Scott Falater of Phoenix still wracked with guilt over murdering wife / heavy.com: Scott Falater Today: Where Is the ‘Sleepwalking Killer’ Now? / thecinemaholic.com: Where is Scott Falater Now?