Sabtu, 03 April 2021

12 Perempuan Terindikasi Radikal Yang Terlibat Dalam Tindakan Terorisme Di Indonesia

Hadirnya "bomber" wanita dalam sebuah kejahatan terorisme, dikhawatirkan akan menjadi pemantik keberanian kaum laki-laki pengikut ISIS untuk bangkit.


VIRALSBOOK.COM - Indonesia kembali digemparkan aksi terorisme! Pelakunya adalah perempuan, menambah deretan sejumlah pelaku aksi teror yang melibatkan perempuan di Indonesia. Analis keamanan di AS mencermati, kelompok-kelompok ter-afiliasi ISIS semakin sering melakukan serangan dengan melibatkan perempuan dan anak-anak. Mengapa demikian?

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), diketahui bahwa jumlah narapidana terorisme perempuan di Indonesia merangkak naik sejak dideklarasikannya ISIS di tahun 2014. Sebelum 2014, hanya empat perempuan yang dipenjara karena tuduhan melakukan aksi teror.

Aksi terorisme yang dilakukan oleh Zakiah Aini di kompleks Mabes Polri, Jakarta Selatan, pada Rabu 31 Maret 2021 mencerminkan kebangkitan terorisme yang melibatkan perempuan di Indonesia. Pengamat terorisme Harits Abu Ulya mengatakan terlibatnya "pengantin" (bomber) wanita dalam isu terorisme di Indonesia memunculkan kekhawatiran tersendiri.

Tentang teroris yang menurunkan wanita dan anak-anak di garda terdepan dalam aksinya, berikut viralsbook rangkum 12 perempuan yang terlibat terorisme di indonesia.

1. Umi Delima

Jumiatun Muslim, alias Atun alias Umi Delima adalah istri sirih dari Santoso alias Abu Wardah, pimpinan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MTI). Ia lahir di Bima, 23 Oktober 1994 dan memiliki banyak nama alias yakni Ipa alias Latifah alias Bunga, alias Ade alias Askia.

Umi Delima diketahui beralamat di Desa Campa Mada, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Ia merupakan putri kedua pasangan Gufran dan Salmah, memiliki kakak bernama Muslimin dan adik bernama Hasanah yang kini kuliah di Makassar, Sulawesi Selatan.

Delima dinikahi secara siri oleh Santoso sekitar tahun 2013 lalu. Dari pernikahan ini. mereka memiliki satu orang anak yang masih balita sekitar 1,5 tahun. Namun anak itu kini dirawat oleh kakak kandung Santoso.

Peran Delima dalam MIT ikut mendampingi dan bergerilya bersama suaminya. Ia juga ikut latihan perang, dan turut memanggul senjata api dalam gerakan-gerakan Santoso.

Delima ditangkap Satuan Tugas Tinombala di sebuah gubuk di wilayah Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Sabtu 23 Juli pagi, Setelah 5 hari Santoso dinyatakan tewas dalam baku tembak antara tim gabungan dengan kelompoknya di Dusun Kuala, Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah pada Senin 18 Juli 2016.

2. Nurul Azmi Tibyani

Keterlibatan Nurul Azmi Tibyani dalam aksi terorisme berawal dari digunakannya rekening bank miliknya untuk menampung dana hasil pembobolan situs multi level marketing yang dilakukan oleh suami sirinya Cahya Fitriana.

Nurul juga merupakan anggota kelompok teroris peretas (hacker) yang dipimpin Rizky Gunawan. Kelompok itu diduga memberikan pendanaan bagi kelompok teroris Poso yang dipimpin Santoso untuk melakukan pelatihan militer di Poso, Sulawesi Tengah.

Total uang yang diterima oleh Nurul di dua rekening miliknya di Bank Mandiri dan BCA mencapai Rp 389,5 juta. Dengan perincian Rp 194,5 juta di Bank Mandiri dan Rp 195 juta di BCA.

Rencananya uang tersebut akan dipergunakan untuk membeli senjata api sebagai sarana latihan militer di Poso. Juga untuk membantu para Umahat -- istri-istri yang ditinggalkan oleh suaminya karena tertangkap polisi --.

3. Putri Munawaroh

Putri Munawaroh adalah istri Agus Susilo Adib alias Susilo. Ia diduga terlibat aksi teroris karena membantu dan menyembunyikan gembong terorisme paling dicari di Indonesia, Noordin M Top.

Baca Juga : 5 Fakta Kebrutalan Kelompok Pemberontak ISIS Kepada Setiap Tawanan Perangnya

Pada April 2009, Putri dan suaminya, didatangi oleh Noordin M Top bersama Bagus Budi Pranoto alias Urwah, dan Ario Sudarso alias Aji, dan menginap di rumahnya selama dua bulan.

Tanggal 17 September 2009 dalam penggerebekan para teroris bom Kuningan di Mojosongo, Solo, Polri menangkap di antaranya Amir Abdillah, Mohamad Jibril, Kedu, Bejo, indra, Aris, Ali, Fajar, Soni.

Sementara yang ditembak mati saat penggerebekan adalah Djoko Eko Sarjono alias Eko Peyang, Air Setiawan, Ibrohim, Ario Sudarso alias Aji, Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Susilo, Syaifudin Zuhri, Mohamad Syahrir, dan Noordin M Top.

Putri Munawaroh sendiri terkena tembakan saat penggerebekan ini. Ia ditangkap dan diadili serta divonis 3 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 29 Juli 2010.

4. Munfiatun

Munfiatun alias Fitri, 28 tahun, adalah istri siri gembong teroris, Noordin M. Top alias Abdurrahman Aufi alias Abu Hafs Al-Muhajir alias Abdur Rosyid yang dinikahinya pada tanggal 22 Juni 2004. Ia didakwa menyembunyikan buronan teroris selama 1,5 bulan di empat tempat berbeda di Jawa Timur.

Masing-masing di rumah Achmad Hasan alias Purnomo alias Agung Cahyono di Dinoyo, Malang. Rumah pinjaman Abu Fida di Kapas Madya, Surabaya. Sebuah penginapan di Tretes, Pasuruan, serta rumah kontrakan Noor Chandra di Jalan Patiunus, Desa Krampiyangan, Kecamatan Bugul Kidul, Kabupaten Pasuruan.

Wanita yang beralamat di Jalan Pemuda No. 22a, Pecangakan Kulon, Jepara ini adalah Sarjana Pertanian dan berprofesi sebagai pengajar Bahasa Arab di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Subang, Jawa Barat. Ia juga biasanya mengajar les privat bagi warga sekitar, khususnya siswa SD dan SMP.

Munfiatun divonis penjara 3 tahun oleh majelis Pengadilan Negeri Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, pada pada 9 Juni 2005. Ia dinyatakan bersalah dalam tindak pidana terorisme karena telah menyembunyikan suaminya yang disangka sebagai pelaku terorisme di Indonesia.

5. Ruqayyah

Gina Gutierez Luceno alias Ruqayyah binti Husein Luceno adalah istri dari gembong teroris Bom Natal dan Bom Bali I, Umar Patek. Ia sejatinya datang dari keluarga beragama Nasrani. Dirinya kemudian dinikahi oleh Umar Patek pada tahun 1998 di kamp Mujahidin, Mindanau, Filipina.

Ujian Ruqayyah sebagai istri dimulai saat Umar tertangkap di kota Abbotabad, Pakistan, akhir Januari 2011. Saat menerima vonis 20 tahun penjara, ia tetap setia mendampingi sang suami selama masa tahanan berjalan.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) menjatuhkan vonis 2 tahun 3 bulan penjara kepada istri Umar Patek, Ruqayyah binti Husein Luceno dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, pada 4 Januari 2012.

Ia dinyatakan terbukti secara sah dan menyakinkan memalsukan identitas palsu untuk pembuatan paspor. Dalam data KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran dan NPWP, Ruqayyah bernama Fatimah Zahra Anis. Data ini yang digunakan dalam paspor palsu, yang kemudian digunakan untuk melarikan diri ke Pakistan.

6. Dian Yulia Novi

Dian Yulia Novi alias Ayyatul Annisa adalah Mantan pekerja migran Taiwan. Dian divonis penjara 7,5 tahun oleh majelis hakim atas tindakannya merencanakan teror. Ia ketahuan membawa satu buah bom panci berdaya ledak tinggi untuk menyerang Istana Negara, pada Minggu, 11 Desember 2016.

Perempuan berdarah Cirebon ini diciduk bersama suaminya Muhammad Nur Solikhin. Belakangan terungkap bahwa ia baru saja direkrut jaringan teroris untuk menjadi "pengantin" (bomber) wanita.

Terungkap pula bahwa motif Solihin menikahinya lantaran Dian berkeinginan menjalankan tugas amaliyah istisyhadiyah yang dipahami sebagai pengorbanan nyawa untuk agama.

Dian ditangkap di kosannya di Jalan Bintara Jaya VIII, Kota Bekasi pada Sabtu 11 Desember 2016 setelah mengirimkan surat waisat yang dikirim dalam kardus bersama sejumlah pakaiannya ke kantor pos. Saat ditangkap, Dian membawa bom panci presto di dalam tas ranselnya.

7. Ika Puspitasari

Ika Puspitasari merupakan mantan pekerja migran Hongkong dan calon pelaku bom bunuh diri. Ia ditangkap di Dusun Tegalsari, Brenggong, Purworejo pada Kamis 15 Desember 2016 sebelum melancarkan aksinya. Keterlibatan Ika dalam kelompok teror tidak lepas dari peristiwa Bom Solo, 25 September 2011.

Pemilik nama alias Salsabila Tasnima ini lahir di Purworejo, tanggal 31 Desember 1982. Ika diduga berhubungan dengan Bachrum Naim, WNI di Suriah, dan telah bergabung dengan ISIS. Ia juga telah diperintah oleh Naim untuk melakukan bom bunuh diri.

Ika ditangkap karena pendanaan aksi terorisme yang dikoordinir oleh suaminya, Zainal, 35 tahun, salah satu tersangka teroris asal Sulawesi yang ditangkap pada 19 Desember 2015 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Selain itu, Ia berperan menjadi penggagas aksi teror ke beberapa markas syiah di luar Jawa. Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukumnya 4 tahun penjara pada tanggal 11 Oktober 2017.

8. Deny Carmelita

Deni Carmelita alias Umi Najla adalah istri Pepi Fernando yang menjadi pemimpin sekaligus otak pelaku dari sejumlah aksi teror bom 2009 - 2011. Ia pun menjadi tersangka dalam kasus perencanaan sejumlah aksi teror bom seperti bom buku dan bom di Gereja Christ Cathedral Serpong, Tangerang.

Ia disangkakan karena mengetahui dan menyembunyikan informasi, salah satunya paket bom yang ditujukan kepada Kepala BNN, Komjen Gories Mere. Selain itu, Deni juga dianggap menyembunyikan pelaku dan informasi tentang akan terjadinya ledakan bom.

Deni ditangkap di rumah orang tuanya di Harapan Indah, Bekasi, tanggal 21 April 2011. Keseharian Deni adalah Pegawai Negeri Sipil di Badan Narkotika Nasional (BNN). Ia tercatat sebagai sarjana jurnalistik lulusan IISIP Jakarta -- lulus tahun 2003.

Deni Carmelita dijerat Pasal 13 huruf a, b, c dan atau Pasal 15 UU Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Terorisme. Pengadilan Negeri Jakarta Barat memvonisnya 2 tahun penjara pada 25 Juni 2012.

9. Puji Kuswati

Puji Kuswati, adalah salah satu pelaku Bom bunuh diri pada petaka yang meletus di minggu pagi 13 Mei 2018, dengan target 3 Gereja yang ada di Kota Surabaya. Mirisnya, saat melakukan aksi bom bunuh diri, ia menggandeng dua putrinya, Fadhila Sari (12 tahun) dan Famela Rizqita (9 tahun), masuk ke halaman Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro. Mereka lalu meledakkan diri.

Dua putra Puji, Yusuf Fadhil (18 tahun) dan Firman Halim (16 tahun), melakukan aksi bom bunuh diri berdua, dengan sasaran Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela. Sementara, Dita Oepriarto, suami Puji mengendarai mobil Avanza masuk ke halaman Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Arjuno, dan meledakkan diri.

Tiga gereja diguncang bom bunun diri 1 keluarga. Teror menyebar cepat, kota mencekam. Sebanyak 17 orang -- termasuk seluruh pelaku -- tewas dan sedikitnya 40 orang terluka. Keluarga ini terindikasi bagian dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD), jaringan teror di Indonesia yang telah berbaiat atau sepaham dengan ISIS.

Bom bunuh diri Surabaya, ketika Puji membawa dua putrinya ikut serta menjadi pengebom bunuh diri, ialah yang kali pertama di Indonesia dan begitu mengenaskan.

10. Inggrid Wahyu Cahyaningsih

Inggrid Wahyu Cahyaningsih, Nina, Dewi dan Ubaedah adalah empat dari sebelas orang perempuan yang ditangkap oleh tim Reserse Kriminal Polda Metro Jaya pada awal tahun 2004 karena dikaitkan dalam peristiwa Bom Cimanggis. Dari sebelas orang perempuan yang ditangkap tersebut, hanya Inggrid yang kemudian perkaranya berlanjut hingga ke Pengadilan.

Bom Cimanggis sendiri adalah peristiwa kecelakaan yang dialami oleh kelompok pengajian pimpinan Aman Abdurrahman saat mereka berlatih merakit bom. Aman Abdurrahman -- yang setelah keluar dari penjara pada tahun 2008 lalu belakangan terlibat lagi dengan pelatihan militer di Aceh -- memerintahkan anggota kelompok pengajiannya untuk merakit bom di rumah salah seorang jamaahnya bernama Sugeng Waluyo.

Sugeng adalah suami Inggrid yang menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat latihan merakit bom. Saat kelompok tersebut berlatih membuat bom, terjadi ledakan keras yang menewaskan Sugeng serta memporak-porandakan rumahnya.

Peristiwa tersebut cukup membuat heboh karena terjadi menjelang Pemilu tahun 2004. Kasus yang semula ditangani oleh Polres Cibinong/Depok tersebut kemudian diambil alih oleh Polda Metro Jaya sebagai bentuk keseriusan penanganannya.

Pengadilan Negeri Cibinong kemudian menjatuhkan pidana kepada Inggrid dengan pidana selama 4 tahun penjara karena dianggap membantu pelaku tindak pidana terorisme.

11. Dewi alias YSF

Dewi alias YSF, kelahiran 1995 adalah salah satu dari 2 pelaku teror bom bunuh diri Gereja Katedral Makassar, pada Minggu, 28 Maret 2021, sekitar pukul 10.20 WITA. Ia melakukan aksi teror bom bersama suaminya, L alias Lukman. Keduanya dinyatakan tewas usai meledakkan diri.

Mirisnya, YSF merupakan pengantin baru karena baru tujuh bulan menikah dengan Lukman, pada Agustus 2020. Bahkan YSF dikabarkan sedang hamil empat bulan. Mereka dinikahkan langsung oleh ustaz Rizaldi, tersangka teroris yang tewas saat hendak ditangkap di Villa Mutiara, Januari 2021 lalu.

YSF merupakan warga asal Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Tetapi, berdomisili di rumah kontrakan yang terletak di Jalan Tinumbu, Lorong 132, Kelurahan Bunga Ejaya, Kecamatan Bontoala, Makassar.

Dalam kesehariannya, Pasutri ini jualan makanan online, dan suaminya L yang jadi kurir pesan antar makanan. Mereka terindikasi ikut dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok terorisme, di Villa Mutiara.

12. Zakiah Aini

Zakiah Aini, 25 tahun, asal Ciracas, Jakarta Timur, terduga teroris pelaku aksi penyerangan Markas Besar Polri di Truno Joyo, Jakarta, Rabu sore, 31 Maret 2021. Ia masuk sendirian ke kompleks Mabes Polri yang dijaga sangat ketat melalui pintu belakang dengan berjalan kaki. Mengenakan penutup muka, berkerudung biru, dan berpakaian hitam, serta terlihat mengapit sesuatu berwarna kuning.

Baca Juga : Terlunta-lunta di Negeri Orang, 5 Kisah Penyesalan Mantan Anggota Kelompok ISIS

Dia kemudian berjalan menuju pos utama di gerbang utama Mabes Polri. Lalu menyerang para polisi dengan senjata api. Setelah enam kali menembak ke berbagai arah di dekat pos penjagaan depan Mabes Polri. Menghadapi serangan tembakan itu, polisi kemudian melakukan apa yang digambarkan sebagai "tindakan tegas dan terukur". Terduga pelaku kemudian tewas ditembak.

Penembakan terhadap Zakiah terjadi beberapa hari setelah terjadi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Minggu 28 Maret 2021 dan disusul penangkapan terhadap belasan terduga teroris di berbagai daerah.

Hasil penyelidikan sementara, Zakiah dikategorikan sebagai lone wolf atau pelaku yang bergerak sendiri. Zakiah diketahui berideologi kelompok radikal ISIS. Hal itu diketahui berdasarkan unggahan dia di Instagram yang baru dibuatnya. Bendara ISIS dan tulisan soal jihad diunggah Zakiah sekitar 21 jam sebelum penyerangan.

Setelah selesai menjalani autopsi di RS Polri Kramatjati, sekitar pukul 00.42 WIB, jenazah terduga teroris Zakiah Aini (25), dimakamkan keluarganya di Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur, pada Kamis 1 April 2021, dini hari.

***

Atas peristiwa-peristiwa ini, menghitung peran dan pengaruh perempuan dalam gerakan radikal tak bisa lagi diabaikan. Kajian yang telah melihat keterlibatan perempuan dalam kelompok radikal nampaknya harus menjadi referensi utama.

Dalam sebuah jurnal, Indonesia at Melborne (26 November 2015) "Why do women join radical groups", menjelaskan 3 faktor keterlibatan perempuan dalam kelompok teroris.

Pertama, perempuan adalah kelompok yang pada dasarnya memiliki keinginan -- untuk tidak dikatakan punya agenda -- untuk ikut terlibat dalam apa yang diyakini sebagai perjuangan melawan kezaliman dan kemunkaran kepada Allah. 

Kedua, dalam konsep kaum radikal terdapat dua tingkatan jihad yaitu jihad kecil dan jihad besar. Jihad besar merupakan pucak dari pengorbanan seorang manusia dengan pergi ke medan tempur dan mati sebagai syuhada.

Ketiga, sebagaimana umumnya dalam organisasi keagamaan, secara umum peran perempuan dalam kelompok radikal sesungguhnya tidak utama dan bukan sentral. Namun peran mereka akan cepat diakui dan dihormati jika mereka dapat menunjukkan keberanian dalam berkorban, termasuk korban jiwa dan raga.

Pengakuan peran ini merupakan salah satu kunci penting dalam mengenali keterlibatan perempuan dalam kelompok radikal. Dorongan untuk menjadi terkenal kesalehannya, atau keikhlasannya atau keberaniannya melepas suaminya berjihad menjadi idaman setiap perempuan dalam kelompok radikal, apatah lagi untuk ikut berjihad.

Tentunya, Ada banyak perempuan yang terlibat secara aktif di setiap aksi terorisme di indonesia, namun tidak tampak di permukaan. Bahkan diperkirakan ada lebih banyak perempuan yang aktif dan terlibat, lebih banyak dari yang terekam di catatan ini.

Indonesia Darurat Teroris! Jangan menunggu ada korban lagi baru bertindak. Sudah saatnya pemerintah bergerak serius memberantas kejahatan terorisme. (vb)


Disadur dari berbagai media:
news.detik.com / bbc.com / tirto.id / gresnews.com / pontrendaarusysyifaa.wordpress.com / tribunnews.com / kompasiana